Sebuah Harapan dari Pangalengan 13
Jumat, 11 Sep '09 11:25
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Kisah sekelompok pengungsi korban gempa yang mencoba bertahan hidup dengan berbagai bantuan dan harapan-harapan.
Suatu malam di awal September. Rembulan berwarna pucat menaungi Pangalengan, saat sebuah truk yang mengangkut bantuan makanan dari Uplift dan DWPP (Dharma Wanita Pengurus Pusat) tiba di pekarangan Balai Desa Margamulya. Sekitar 20 orang yang tengah asyik berkumpul sontak menghentikan kegiatan masing-masing. Mereka lantas bergegas menurunkan 420 dus berisi breedlove. Sejenis makanan kaya gizi dan protein yang terdiri dari campuran beras, kacang-kacangan, wortel,garam yodium dan bawang.
"Makanan jenis ini terbukti sukses menaikan taraf perbaikan gizi para pengungsi di negara-negara yang memiliki masalah gizi buruk seperti Ethiopia,Zimbabwe dan beberapa kawasan konflik dunia,"ungkap Faizal Hussein, Koordinator Comdev (Community Development) Uplift Indonesia kepada saya beberapa waktu lalu.
Uplift adalah NGO (Non Government Organization) yang mempelopori pembangunan kesetaraan hak kesehatan global. Kantor pusatnya berada di Seatle,Amerika Serikat. Selain Indonesia, tercatat mereka pun pernah bergerak di negara-negara Afrika. Dan kini kantor perwakilan Uplift Internasional ada juga di Pakistan dan Burma. Di Indonesia, salah satu program Uplift adalah menyebarkan breedlove di 30 madrasah. DWPP (Dharma Wanita Persatuan Pusat) merupakan mitra utama Uplift dalam upaya tersebut.
Malam semakin larut. Udara dingin yang menyelinap dari balik tembok dan genting bolong akibat gocangan gempa sepekan lalu, serasa menusuk tulang sumsum. Jam tangan saya menunjukan waktu 0.47 ketika orang-orang Margamulya memutuskan untuk saur dengan breedlove. "Ingin tahu bagaimana rasanya makanan yang katanya harganya aja pakai dolar,"kata Bunyanun Marsus, Kepala Desa Margamulya.
Usai membersihkan 3 gelas breedlove dengan sedikit air, sebuah kompor gas usang pun dipersiapkan. Ctrekkk..Ctrekkk...Ctreekkk. Si Usang ternyata tidak mau menyala. "Ah payah kalian, ini kompor punya cara khusus menyalakannya," ujar lelaki tua bernama Ana Ateng (56) seraya mengambil obeng dan mengait salah satu tombol Si Usang untuk dinyalakan. Ctreekkk...bushhhh! Api biru bercampur kuning muncul disela-sela pusat sumbu secara bertahap. Breedlove pun segera dimasak dalam sebuah wajan.
Hampir satu jam kemudian uap berbau gurih menyeruak, bersanding dengan bau nikotin dari gulungan asap putih di ruangan 5X8 meter itu. Breedlove siap dimakan. "Hayu..Hayu geus asak euy " (Ayo-ayo sudah matang tuh),"kata Kades Bunyan. Dikomando demikian, mereka bergerak. Nyaris berebutan. Saya bergeser sedikit, saat seorang lelaki tua bersarung kotak-kotak coklat minta duduk di sebelah saya. Ia tersenyum. Sambil menyantap breedlove, ia bilang: "Ini makanan enak.Gurih. Tapi teu nanaon kan,Kang?"tanyanya kepada saya.
Alis saya berkerut. Saya tidak paham maksud pertanyannya itu.
"Maksud Bapak,memakan ini takut ada efeknya?" Dia tersenyum.
"Sanes (bukan), maksud saya apakah makanan ini tidak membuat mulut saya nanti berubah jadi sering mengucapkan yes,no,yes,no.Siga urang bule," saya kontan tergelak. Terutama saat melihat mimik dia kala mengucapkan kalimat itu.
"Kalau begitu, setiap berlaku seperti itu Mang Ana cepat saja makan lagi beras raskin,dijamin jadi balik lagi bisa berbahasa Sunda,"kata Aceng,pemuda 22 tahu yang sedari tadi saya lihat selalu menjadi sasaran empuk ledekan para seniornya. Tawa pun meledak di ruangan itu,seolah berusaha memerangi sepinya malam.
Tepat pukul 02.27 WIB, pesta breedlove usai. Sebagian orang pamit untuk pulang ke tenda masing-masing. Saya, Bunyan, Aceng, Yudi dan Sanip tetap bertahan di Posko Balai Desa Margamulya. Ngobrol ngalor ngidul tentang liku-liku kisah menjadi pengungsi."Akang tahu kami tertawa-tawa begini hanya untuk menghibur diri sendiri,kalau nanti sampai kamp mah ya rasanya saya selalu sedih kembali.Terutama kalau melihat anak-anak saya,"ujar Sanip sambil tatapannya menerawang jauh seolah ingin menembus sisa-sisa permukaan tembok Balai Desa yang belum jebol.
Pukul 03.05, Sanip dan Aceng pamit pulang. Sebelumnya, Yudi keluar entah kemana.Bunyan sendiri pada akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas jejeran karung berisi beras. Sepuluh menit kemudian,"pemimpin besar" Desa Margamulya itu pun mendengkur. Raut-raut lelah terlihat jelas di wajahnya yang terlihat agak tua dari umur sebenarnya.
Saya memutuskan untuk bergadang. Mengirim beberapa berita singkat ke email, miling list, FB, blogg kawan-kawan tentang kondisi terakhir situasi di sini. Sementara di luar sana, udara semakin dingin ketika bulan purnama yang terlihat lebih cantik muncul di balik dedaunan.
*
Pangalengan adalah sebuah kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bandung. Luasnya sekitar 28.059 ha meliputi beberapa 13 desa yang secara keseluruhan penduduknya berjumlah 132.555 jiwa. Hampir sebagian besar wilayah Pangalengan adalah lahan pertanian,hutan dan perkebunan milik negara. Otomatis dengan situasi seperti itu, mata pencaharian penduduk Margamulya mayoritas adalah petani kecil atau buruh tani.
Ketika lindu berkekuatan 7,3 skala richter menggoncang, Pangalengan adalah salah satu dari 3 tempat (Tasikmalaya dan Cianjur) yang mengalami kerusakan hebat dan korban manusia yang lumayan banyak. Data terakhir yang dilansir pihak kecamatan menyebut 21.340 rumah rusak, 12 orang meninggal dunia dan sekitar 400 orang terluka.
Namun dari 13 desa tersebut ada 4 desa yang mengalami kerusakan yang sangat parah. Masing-masing desa itu adalah Margamulya, Margamukti, Sukamanah dan Pangalengan. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri kerusakan memang sangat hebat. Selain hampir sebagian besar rumah-rumah ambruk dan tidak layak huni lagi, korban luka dan trauma pun bertebaran di keempat desa tersebut. Belum anak-anak yang terserang ISPA dan kelaparan.
Tak banyak yang bisa dilakukan oleh mereka. Sebelum breedlove datang, laiknya pengungsi Indonesia di mana saja, mereka hanya mengonsumsi supermie dan beras raskin yang didapat dari bantuan pihak-pihak luar pemerintah. Soal penanganan kesehatan pun menjadi masalah:kurangnya tenaga medis dan minimya persedian obat-obatan.
"Anehnya ketika saya berinsiatif menghubungi teman-teman saya yang dokter atau mahasiswa kedokteran, orang-orang Dinas Kesehatan itu marah-marah dan menyebut kami melangkahi wewenang mereka," ujar Bunyan.
Padahal selama ini, tenaga-tenaga medis dan kucuran obat-obatan dari Dinas Kesehatan sangat jauh dari cukup. Ada suatu kejadian lucu dan menyedihkan,menurut Bunyan, ketika serombongan dokter dari Dinas Kesehatan memeriksa korban gempa. Mereka menyebutkan dan menganalisa penyakit para pengungsi, tapi: " Tanpa memberi obat. Alasannya yaitu mereka tidak memiliki obatnya,"kata Kades kelahiran tahun 1964 itu.
Yang paling menyedihkan, kata Bunyan, anak-anak dan para ibu banyak mengalami trauma psikologis. Terlebih untuk anak-anak sekolah, sejak terjadinya lindu, mereka praktis tak bersekolah lagi karena infrastruktur pendidikan di seluruh Pangalengan dipastikan lumpuh.
"Ya, kalau saya ingat itu rasanya sedih sekali karena mereka adalah harapan kami untuk masa depan,"kata Bunyan dalam nada terbata. Buliran kristal perlahan keluar dari balik kaca mata minusnya.
Karena itu, Bunyan berharap ada pihak-pihak luar (ia bilang tidak banyak memiliki harapan kepada pemerintah) yang bisa membantu anak-anak itu untuk kembali belajar dan membantu para warga untuk keluar dari suasana trauma. "Saya sudah bicara dengan salah seorang teman dari Universitas Islam Bandung (Unisba).Dia akan membantu untuk mendatangkan tenaga psikolog dari Fakultas Psikologi Unisba.Ya semoga saja bisa,"katanya penuh harap.
Tiba-tiba perbincangan kami terganggu oleh tangis seorang bocah yang tengah dipangku seorang ibu berjilbab yang terlihat cemas. Mereka mendatangi Bunyan.
"Pak Kades anak saya panasnya tidak mau turun,saya minta tolong untuk dibawa cepat ke Puskesmas,"kata sang ibu setengah memaksa.
"Aduh,Bu...Gimana ya? Mau pakai sepeda motor saja? Baru saja mobil ambulan desa lagi dipakai untuk mengangkut orang hamil ke sana,"kata Bunyan setengah bingung.
Saya ingat ada beberapa kawan dari Palawa Universitas Padjadjaran Bandung yang tengah mendirikan Posko di Desa Margamukti. Di antara mereka ada beberapa dokter yang membawa obat-obatan juga. Secepatnya saya kontak mereka untuk datang ke sini.
"Oke,Kang kami akan segera meluncur ke sana,"kata Opik, salah seorang teman saya di Palawa Unpad.Suaranya terdengar agak kecil di telepon genggam saya.
**
Rabu sore, 2 September 2009. Ade Suryana (58) masih tergolek di tempat tidur ketika ia merasa bumi tergoncang hebat. Tadinya ia berpikir, itu cuma mimpi saja. Namun suara jeritan dan teriakan tetangga-tetangganya menyadarkan Ade untuk spontan bergerak meninggalkan kamarnya. Namun baru saja ia sampai di batas pintu antara ruang tengah dengan ruang tamu, atap rumah ambrul dan nyaris menimpa kepalanya.
"Saya takut sekali dan berdoa sebisanya,"kata warga Desa Margamukti itu. Untung dibantu tetangga-tetangganya, ia akhirnya bisa keluar dari rumah.
Dalam waktu yang sama, di Kampung Legokkondang, Desa Pangalengan, Ayi (48) akan bergerak mengambil wudhu. Perempuan dengan 5 anak itu, terkejut ketika ia merasa tanah yang dipijaknya bergerak.
"Lalu disusul, ambruknya bangunan loteng tetangga di sebelah saya,"kata perempuan yang sehari-hari berdagang bubur ayam itu.
Sambil bertakbir, ia lantas lari keluar dan menyaksikan satu persatu rumah-rumah hancur berantakan. "Yang pertama muncul di kepala saya adalah di mana anak-anak saya?"kenangnya. Sembari menyelamatkan diri menuju tanah lapang,ia tak henti menangis dan berdoa.Doanya dijawab ketika di tanah lapang ia menyaksikan anak-anaknya selamat tanpa kekurangan apapun.
Ade dan Ayi kini menjadi bagian dari puluhan ribu pengungsi yang bertahan di tenda-tenda pengungsian. Kendati tiap hari mereka "bertempur" melawan kesusahan namun itu tidak membuat mereka hilang harapan.
"Tidak apa-apa kita begini,tidak apa-apa kita makan supermie tiap hari.Kalau ini sudah menjadi ketentuanNya,kita mau apa? Insyaallah,kita ada rezekinya,"katanya tabah. Saya tercekat.
Di tengah ketidakjelasan bantuan dari pemerintah, rata-rata kondisi para pengungsi sangat menyedihkan. Selain logistik yang tidak memadai (Di desa Margamukti saya menemukan kenyataan setiap RW hanya mendapatkan jatah ½ dus mie instant) kebutuhan tenda, selimut, masker dan obat-obatan sungguh minim sekali.
Begitu minimnya hingga di beberapa kamp, saya menemukan beberapa keluarga terpaksa bernaung di bawah kandang kambing dan sapi. Yang bertahan di kebun jagung dan kebun kopi malah tak terhitung jumlahnya.
Rembulan berwarna pucat masih menggantung di langit Pangalengan, ketika saya berpisah dengan salah seorang pengungsi di batas desa Margamulya. Sambil matanya berkaca, ia menggengam tangan saya erat, dan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada saya.
"Akang salah alamat kalau mengucapkan kata-kata itu kepada saya, saya hanya ditugaskan mengantarkan kiriman saja kesini."Ya, saya akan merasa berdosa kalau mereka menganggap saya yang mengirim bantuan breedlove itu.
"Boleh saya tahu nama lembaga itu,Kang?"
"Namanya Uplift dan Dharma Wanita Persatuan Pusat." (hendijohari)
Terkait:
-
SUARA DI PINTU AIR
Minggu, 22 Nov '09 20:06 -
Berjuang Melawan Batas
Minggu, 4 Okt '09 14:37 -
Lorong Maut Saudara Tua
Minggu, 27 Sep '09 09:44

Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
pilu saya membacanya..
dulu pas tsunami berlangsung, saya masih di Bdg.. dan masih bisa nyampe ke Aceh sekalipun..
sekarang, malah kota yg membesarkan saya itu, tidak bisa saya bantu banyak ..
Kenapa atuh,Kang? Di sini kordinasi antara relawan sangat buruk sekali...amburadul...yang kasihan jadinya korban...demo warga marak menuntut logistik yg tidak mencukupi...korban, relawan, wartawan dan bajingan berkumpul sekaligus di sana (mungkin sedikit yang muncul di berita)...wartawan2 dari media cetak dan elektronik saya lihat cuma "nongkrong" depan Kecamatan, kenapa mereka ga bergerak ke pelosok yg tidak tersentuh bantuan?
Secara sistemik,.. pengaturan dari atas (top down) sedang buruk-buruknya. Karena banyak yang "nggrusel" mereka ga dapat posisi lagi di pemerintahan selanjutnya, Bener2 dah...
Aceh dulu bisa bagus koordinasinya walau kacau dengan alasan :
1. Bencana skala internasional.
2. Kondisi keamanan dan politis. TNI lebih getol bekerja disini. karena atasannya sendiri yang punya mandat bsar soal konflik disana. Kalau TNI bekerja, saya ga usah ragukan lagi. Memang mereka garda tanpa pamrih.
3. Jujur saja, saya idak begitu percaya dengan kerja Satkorlak dibawah sipil. Jauh dan jauh lebih baik dikelola TNI. Cepat tanggas, trengginas. Ketika sipil yg mengelola satkorlak, mitigasi bencana Aceh ga kalah melempemnya seperti cerita mas hendijo diatas.
Nah ini yang saya bingung, kenapa TNI belum"kedengaran" gaungnya di sana? Padahal resource TNI terbesar di Aceh dulu, justru banyak diperbantukan dari Siliwangi. Banyak komandan hebat disana, ngerti mengelola kondisi bencana begini.
Di Posko Desa Margamulya ada memang satu peleton Kopassus dan 330 Kudjang Siliwangi, tp tugas mereka sepertinya tak lebih sebagai penjaga situasi keamanan semata (pasca gempa banyak maling bergentayangan dan demo-demo mengarah ke vandalisme).Sy lihat mereka cuma ngobrol2, ngopi, tidur2an saja. Pas breedlove yg sy kawal dari Jakarta datang di Balai Desa, mereka samasekali tidak bantu2. Sy tidak tahu dasar keberadaan mereka di Pangalengan apa? Sepertinya perintahnya beda dengan yang mereka dapat waktu di Aceh.
Uhm... Ini gempa tanggal berapa kang, kok laporannya tanggal 28 Agustus 2009?
hehehehe...biasa lagi "hang" pas nulisnya...udah dikoreksi tuh...thanks udah ngingetin
Silahkan login untuk memberikan pendapat