Kades Margamulya,Pangalengan: Mereka Bilang Ini Bukan Bencana Total 0
Minggu, 13 Sep '09 08:23
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Bunyanun Marsus tersenyum ketika mendengar cerita lucu yang dilontarkan seorang warganya saat menceritakan upaya dia meloloskan diri dari goncangan gempa beberapa waktu lalu. Kepada saya, Kepala Desa Margamulya itu menyatakan rasa bangga sekaligus harunya karena kendati dalam situasi menderita, warga Desa Margamulya masih bisa tertawa dan memiliki harapan.
" Tapi ya memang apalagi kalau kita tidak menghibur diri sendiri dan berusaha menjadikan bencana ini sebagai sesuatu yang lumrah,"ujar lelaki kelahiran Pangalengan 45 tahun lalu tersebut.
Dari 13 desa yang ada di Pangalengan, Desa Margamulya memang termasuk dalam 4 desa paling parah keadaaannya pasca gempa. Lantas bagaimana situasi yang sesungguhnya yang tengah terjadi di sana? Dan apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah, LSM dan institusi-institusi lainnya untuk menangani korban gempa 7,3 sakal richter itu? Di tengah udara malam yang dingin menusuk, saya mewawancarai kepala desa yang selama ini dikenal akrab dengan warganya itu.Berikut petikannya:
Bisa anda ceritakan bagaimana kondisi terakhir para pengungsi yang ada di Pangalengan, khususnya para pengungsi yang menjadi warga anda di Desa Margamulya ini?
Hingga kini kondisi kami ada dalam situasi yang tak menentu.Memang belum sampai pada tahap frustasi dan mudah-mudahan janganlah.Karena sejauh ini kami bisa bertahan dengan kondisi yang ada.Tapi kami juga tidak bisa menafikan bahwa cuaca yang sangat dingin menjadi masalah bagi kami terutama pada malam hari.Kami juga mau tidak mau harus menghirup udara yang dipenuhi debu-debu dari reruntuhan, yang menyebabkan sebagian besar dari kami mengalami gangguan nafas yang sangat parah.
Soal makanan, apakah mencukupi?
Ya sebelum breedlove ini datang, konsumsi kami tiap hari tak lebih hanya mie instant, beras raskin, sedikit telur, sedikit air bersih. Dengan pasokan logistic yang jauh memadai dari segi jumlah dan kualitas gizi ditambah situasi puasa dan keharusan bekerja keras pada siang harinya, otomatis daya tahan tubuh kami menjadi drop.Inilah mungkin yang mejadikan kami rentan sekali diserang berbagai penyakit seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), typus, flu berat dan lain sebagainya.Dan sebagian besar yang mengidap penyakit itu adalah anak-anak.
Kalau yang luka-luka bagaimana?
Ya banyak juga dari kami yang mengalami luka akibat tertimpa material bangunan atau pohon dan batu saat gempa. Contohnya seperti Mang Ana ini (Bunyan menunjuk seorang lelaki paruh baya yang kakinya terlihat bengkak dan tengah menunggu untuk dibawa ke Puskesmas). Ada sekitar puluhan warga yang menderita akibat tertimpa material bangunan di desa kami. Saya pikir harusnya mereka ditangani secara cepat.
Ada upaya yang dilakukan untuk mengobati atau menangani mereka, terutama dari pihak Dinas Kesehatan?
Inilah justru yang menjadi ketidakmengertian kami. Hampir setiap desa yang meminta penanganan medis dan memohon penyedian obat-obatan untuk tindakan preventif tidak dipenuhi dengan alasan mereka takut salah mendiagnosa penyakit. Untunglah dalam 2 hari ini, kami banyak ditolong oleh para tenaga medis dari beberapa organisasi non pemerintah dan perguruan tinggi seperti dari Universitas Maranatha dan STIKES Ahmad Yani Bandung, UI dan Unpad.Berbeda dengan para petugas dari Dinas Kesehatan mereka mau terjun langsung memeriksa dan sekaligus memberikan obatnya. Tapi anehnya, pengalaman kami di Desa Margamulya, situasi ini justru memunculkan rasa tidak suka dari orang-orang Dinas Kesehatan kepada kami.
Lho? Maksudnya?
Ya kami ditegur dan disalahkan oleh pihak Dinas Kesehatan. Dengan munculnya para dokter dan mahasiswa kedokteran dari LSM dan perguruan tinggi di Posko Margamulya, kami dituduh telah bertindak melangkahi wewenang mereka.Istilahnya tidak koordinasi. Tapi apa yang kami tahu tentang soal melangkahi wewenang? Terlebih dalam kondisi tiap hari di desa kami ada saja orang yang memerlukan perawatan dan memerlukan tindakan cepat (suara Bunyan agak meninggi). Ya silakan saja kalau mereka mau marah-marah
Secara kuantitas jumlah kerugian material dan korban yang ada di Margamulya sendiri berapa,Kang?
Dari 27 kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung, Kecamatan Pangalengan memang yang paling parah kondisinya. Dan di Pangalengan ada 4 desa yang kondisinya paling parah.Desa itu masing-masing adalah Sukamanah, Margamukti, Pangalengan dan Margamulya. Untuk 3 desa lain saya tidak memiliki data jelas, tapi untuk Margamulya sendiri hingga kini ada 2900 rumah yang ambruk, 900 diantaranya rata dengan tanah. Dengan jumlah penduduk yang paling banyak di Pangalengan yakni 15.785 jiwa,korban luka-luka mendekati angka 1000-an,yang jadi pengungsi lebih dari setengah jumlah penduduk secara keseluruhan.Selain di Balai Desa, mereka bertahan di kebun-kebun sayur, kebun kopi, kebun jagung dan lain-lain.
Bagaimana respon pemerintah sendiri? Sudahkah mereka mengirimkan bantuan ke sini?
Kemarin memang Pak Gubernur dan Pak Bupati Kabupaten Bandung sudah datang kemari.Dalam diskusi yang kami lakukan, mereka menyatakan bahwa bencana alam ini belum termasuk kategori bencana total namun demikian membutuhkan sebuah penanganan yang cukup lama. Mereka bilang jika para korban dipasok habis-habisan, ini akan dikhawatirkan menimbulkan sebuah sikap manja yang mengarah kepada kemalasan dari masyarakat. Apalagi para korban itu kan masih memiliki asset pribadi yang bisa dicairkan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.Tapi harus diingat, sebagian besar mata pencaharian penduduk Pangalengan adalah buruh tani miskin.
Jadi bantuan konkrit pemerintah belum ada?
Ini yang saya heran. Pemerintah kan punya Bulog (Badan Urusan Logistik).Tapi kok gerakannya belum ada hingga kini? Itu saya sempat tanyakan kepada Pak Bupati. Jawabannya, mereka akan usahakan dengan menyetop sementara bantuan raskin yang selama ini tiap bulan dikucurkan.Saya kurang paham, apakah penyetopan lantas diarahkan kepada korban bencana secara gratis atau masih beli, saya yidak tahu. Kalau harus beli juga, ya dalam kondisi seperti ini yakin saya kami tidak akan mampu.
Dalam setiap bencana, biasanya yang paling menderita adalah anak-anak dan perempuan, bagaimana kondisi mereka di Margamulya?
Betul sekali Kang. Saya sangat prihatin sekali melihat kondisi mereka.Aktifitas pengelolaan ekonomi jelas lumpuh saat ini hingga menyebab kan para ibu tidak bisa menyediakan makanan yang layak buat para suami dan anak-anaknya saat berbuka dan saur. Banyak juga ibu-ibu mengalami trauma. Lalu anak-anak, saya sedih sekali melihat mereka (terdiam sekitar 15 detik). Pendidikan mereka terbengkalai karena madrasah,surau, sekolah tempat mereka belajar hancur lebur.
Lantas selama tidak sekolah,aktifitas mereka apa?
Ya mereka hanya berdiam diri saja di tenda-tenda, mungkin sekali-kali main dan kumpul-kumpul. Karena itu saya berharap lembaga-lemabaga pendidikan dan pemerhati anak bisa bahu membahu membuka tenda-tenda belajar di sini. Ya setidaknya untuk memelihara semangat belajar mereka jangan sampai mati.
Terkait dengan bencana gempa ini, pemerintah Indonesia menyatakan tidak memerlukan bantuan asing. Menurut presiden, bencana ini masih bisa ditangani oleh pemerintah.Komentar anda?
Ya untuk menaikan harga diri bangsa mungkin saya tidak bisa menyalahkan pendirian pemerintah itu dan saya setuju. Tapi menurut saya ucapan itu, harus diikuti dengan tindakan cepat dalam menangani bencana ini. Tapi kok ini tidak? Saya bertanya-tanya, di mana pembuktian kata-kata:" bencana ini masih bisa ditangani pemerintah?" Kalau dalam kenyataannya respon yang kami tunggu dari pemerintah sama sekali belum ada. Ya saya mengerti ini soal gengsi sebagai sebuah bangsa yang besar, tapi di sini, sampai kapan kami harus menunggu? Sampai kapan?
Terakhir, apa hikmah yang bisa anda ambil dari situasi ini?
(Menghela nafas dan diam sejenak) Sekali dalam seumur hidup saya baru merasakan kondisi seperti ini. Selama ini, kami hanya bisa menyaksikan bencana-benacana hanya dari televisi dan sekarang kami mengalaminya sendiri. Memang berat menjadi orang yang terkena bencana. Akang tahu,waktu pas terjadi gempa saya tengah dirawat di RS.Bale Endah Kabuapen Bandung karena saya memiliki penyakit ginjal. Begitu gempa terjadi, saya paksakan pulang,jujur saya ingat warga saya.Pas sampai di rumah, saya melihat kenyataan yang membuat saya sangat terpukul, waktu itu saya pingsan (diam sejenak,matanya berkaca-kaca).Begitu sadar, tak terasa saya menangis. Saya melihat warga saya begitu menderita, rumah-rumah porak poranda, ada yang merintih-rintih, ada yang terbengong-bengong,ada yang menjerit-jerit,pokoknya siapapun yang ada di sana mungkin termasuk anda,akan merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan pada waktu itu. Tiba-tiba saya jadi ingat masa depan anak-anak kami.Ya, saya pikir ini pengalaman yang sangat berharga ya minimal buat saya. Namun kejadian ini tidak harus membuat kita manja dan hilang harapan.(hendijo)
Terkait:
-
SUARA DI PINTU AIR
Minggu, 22 Nov '09 20:06 -
Berjuang Melawan Batas
Minggu, 4 Okt '09 14:37 -
Lorong Maut Saudara Tua
Minggu, 27 Sep '09 09:44
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
le renard: Bagus
-
prajnamu: Bagus
-
namonah: Bagus
-
Yudiantoro: Bagus
-
ndableg: Bagus

Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat