Ramadhan Bagi Mbah Arsodibejo 5

Selasa, 15 Sep '09 03:29

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

 

Maliboro beberapa saat sebelum Idul Fitri riuh dengan teriakan & ajakan gadis penjaja di pusat perbelanjaan. Semakin dingin dan larut malam, semakin ramai ruas jalan jantung kota Yogyakarta ini. Spanduk potongan dan rabat menyambut Idul Fitri menghiasi nyaris tiap titik Malioboro. Jika anda hendak membeli sesuatu untuk berlebaran, inilah saat yang tepat.

Tapi mungkin tidak bagi seorang Mbah Arsodibejo. Ia adalah salah satu dari sekian penjual musiman di Malioboro. Barang dagangannya adalah bakiak, bangku & papan cucian dari kayu, lugu tanpa warna. Mungkin itu pula yang membuat orang enggan menoleh pikulannya. Sekarang kan jaman plastik dan karet warna-warni, produksi massal yang membuat harganya jauh lebih murah dari dagangan Mbah Arsodibejo.

Asalnya dari Dlingo, kecamatan yang berjarak 25 Km dari Yogyakarta. Berada di lereng perbukitan bagian selatan DIY, perbatasan antara Kabupaten Gunungkidul dengan Kabupaten Bantul. Kecamatan yang juga sentra kerajinan kayu & anyaman ini juga merupakan salah satu daerah korban gempa 2006 lalu. Pasca bencana memang ada beberapa bantuan yang terdengar. Alat-alat pertukangan dari Direktorat Industri Kecil dan Menengah (IKM) Departemen Perindustrian di selama 2008 & 2009 misalnya, tapi apakah mereka terbantu juga dalam memasarkan hasil kerajinanannya? Termasuk untuk memoles kembali hasil kerajinannya dan bersaing dengan barang-barang karet dan plastik?

Semua hasil penjualan bakiak, bangku & papan cucian yang selalu dipikulnya memang untuk merayakan lebaran nanti bersama istrinya di rumah. Jika bagi orang lain beberapa hari menjelang Idul Fitri adalah saat potongan dan rabat, maka bagi Mbah Arsodibejo adalah saat untuk menjual lebih banyak lagi dagangannya. Kalau barang dagangan tak kunjung berkurang, berarti berjalan lebih jauh dan kembali lebih larut ke kamar tumpangannya di pinggiran Kali Code.

 

 

 

 


Tag: ramadhan, kerajinan, kayu, dlingo, industri rakyat, malioboro, IKM, industri kecil, rabat, teklek, dingklik, bakiak

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

prajnamu 1 suka | 0
Oalah mbah... negoromu ki opo ora iso ngek no klambi to? : ((
yusro 1 suka | 0
Mbah, ngaturaken sembah sungkem, sedaya kalepatan nyuwun pangapunten : )
mawi wijna 1 suka | 0
Dlingo itu bukannya deket sama Imogiri? Daerahnya kan berbukit-bukit? Aduh mbah, kok ya sampai ke Jogja toh? Di Imogiri ndak laku po?
le renard 0 0
kalau tetangganya juga pada buat teklek, mengekspornya ke 'negoro' mungkin sebuah pilihan bung mawi wijna : )
Pocoyo 0 0
trenyuh : ((

Silahkan login untuk memberikan pendapat