Pangalengan 140909 4

Selasa, 15 Sep '09 05:29

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Hanya mampir selama 3 jam di Pangalengan, di Desa Pangalengan RW 02 - RT 04. RT ini salah satu yang paling padat, karena dihuni lebih dari 100 KK. Pernah ada gagasan pemekaran, tapi belum sempat dan keburu ada gempa.

Wilayah RT ini, dan RT 05 berada di wilayah tebing, dan sekitar lereng. Dari pinggir jalan raya Pangalengan, wilayah ini sekitar 10-15 meter lebih rendah. Maka dari arah jalan, daerah ini hanya tampak pepohonan, karena sebagian rumah sudah tak tampak lagi atapnya.

Tidak berhasil menemui pejabat di sekitar itu. Ada satu tenda dari Dinas Sosial, kosong tak berpenghuni. Demikian juga kantor lurah. Hanya ada tenda logistik dari Horisoni, dan teman-teman SMA Taruna Bakti yang mengajak anak-anak bermain di sekitar lokasi.

Korban jiwa di daerah ini relatif sedikit, dan itupun penyebab utamanya adalan jarak antar rumah yang sempit, sehingga ketika gempa terjadi, warga banyak yang terjebak di gang-gang. Satu orang tua berumur 80-an tahun masih dirawat di RS Hasan Sadikin karena patah kaki tertimpa rereuntuhan.

Data sangat minim. Aparat lokal, RT & RW, seperti lumpuh. Mereka tak berinisiatif membangun data korban di wilayah mereka sendiri. Terasa sekali kehilangan kepemimpinan, tak terarah, tak terkordinasi. Bantuan seringkali meleset, karena semua orang ingin dibagi sama rata, tanpa mempertimbangkan tingkat kerugian dan status korban.

Rumah-rumah tak lagi ditinggali, meski yang masih cukup berdiri tegak. Semua memilih di tenda darurat. Dari pengakuan beberapa warga, belum terdengar kabar, kapan mereka akan bisa merekonstruksi rumah-rumah yang ambruk, serta bagaimana mekanismenya. Mengandalkan tenda, sungguh tak layak untuk hidup dalam cuaca ekstrim seperti di Pangalengan. Malam dingin menusuk tulang, siangnya matahari terik disertai angin yang membawa debu kemana-mana.

Anak-anak adalah korban nomor satu. Beberapa anak sudah mulai terkena gatal-gatal, dan obat-obatan masih minim di lokasi ini. Beruntung sumber air bersih masih mudah didapat, sehingga aktivitas sehari-hari masih bisa berjalan.

Di antara tenda para korban, ketemu satu industri pengolahan lobak untuk dijadikan Cai Po. Industri ini milik keluarga, tersebar di RT tersebut. Ada sekitar 3 bengkel kerja pemotongan, penjemuran, dan pengasinan lobak yang sudah dipotong untuk dijadikan Cai Po. Pemasarannya ke Jakarta hingga Sumatera, dan permintaan cukup tinggi. Sementara bahan baku lobak, mereka ambil dari desa tetangga yang menanam lobak. Sekilo lobak kira-kira 500-600 perak. Sedangkan sekilo Cai Po yang sudah siap kirim, sekira Rp. 6000/kg. 1 ton lobak, bisa menghasilkan kira-kira 1 kwintal Cai Po.

Butuh banyak tenda-tenda baru, dan selimut untuk warga korban bencana. Melihat tanda-tanda rekonstruksi belum akan terjadi segera, maka bertahan di tenda adalah kemungkinan terakhir. Barak-barak penampungan sementara juga belum tahu, akan dibangun atau tidak.


Tag: gempa, pangalengan, tenda, selimut, obat-obatan, kab bandung

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mawi wijna 0 0
Mirip kondisi pas gempa bumi Jogja-Jateng tahun 2006 silam di Prambanan, kebetulan dulu saya bantu-bantu disana. Padahal Pangalengan terkenal dengan alamnya yang cantik, moga-moga masih tetap cantik.
prajnamu 0 0
mawi wijna: sebagian kebun tehnya yang terkenal memang masih tampak cantik, tapi sebagian lain yang 'pitak' di sana sini, tampak 'mengerikan'...
hendijo 0 0
prajnamu:
ketemu siapa aja di sana,bung?
prajnamu 0 0
hendijo: Saya cuma sebentar, jadi cuma ketemu orang lokal saja.Pas sampe sana kebetulan juga lagi ada Tisna Sanjaya, dengan STV. Orang Dinsos entah dimana cuma ada tenda kosong. Kelurahan jug apas lagi sepi. Saya ngga sempet keliling posko-posko, cuma keliling di RW itu aja sama beberapa orang warga sebagai pemandu.

Silahkan login untuk memberikan pendapat