Berharap Pada 'Bumi Geulis' 7
Rabu, 16 Sep '09 00:25
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Setelah vakum selama 2 tahun, jalur kereta api Sukabumi-Bogor kembali diaktifkan. Upaya tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Itu dibuktikan dengan, membludaknya jumlah peminat KA.Bumi Geulis,satu-satunya moda transportasi di jalur itu.
Jumat senja di pertengahan Mei itu, Stasiun Bogor dipenuhi oleh gerombolan anak muda. Mereka berpenampilan bak petualang: ransel gunung besar di punggung lengkap dengan peralatan kemping seperti lampu badai, tenda,dan kompor gas lipat. "Kami mau kemping ke Pondok Halimun di Sukabumi,"kata Arie Bismo (18), salah seorang dari anak-anak muda tersebut.
Sekitar 8 bulan yang lalu, jika mau kemping ke Sukabumi, hampir selalu Arie dan kawan-kawannya menggunakan jasa bus antar kota. Selain lewat Terminal Kampung Rambutan,tak jarang mereka pun "mangkal" terlebih dahulu di Ciawi. "Kalau bus jurusan Sukabumi penuh, kami terpaksa naik mobil sampai Ciawi,lalu diteruskan pakai angkutan kecil ke Sukabumi,"ujar mahasiswa tahun pertama sebuah universitas swasta di Jakarta tersebut.
Namun setelah ada KA Bumi Geulis (KABG), "tradisi" itu total ditinggalkan. Mereka lebih memilih untuk memakai jasa kereta bertenaga diesel tersebut untuk mencapai Sukabumi."Selain lebih cepat, kita juga sangat terhibur dengan pemandangan indah sepanjang jalur tersebut,"kata Arie.
Tidak beda dengan Arie dan kawan-kawannya, Darma Suhanda (37) juga merasakan beruntung dengan adanya KABG itu. Ia menyatakan, tidak harus capek lagi naik turun angkutan kota jika ingin berbelanja ke Jakarta. Kalau dulu,ia bisa naik sampai 4-5 angkutan,kini cukup sekali naik angkutan kota ditambah naik KA.Bumi Geulis ke Bogor.
"Setelah dari Bogor saya bisa naik KRL Jabotabek dan turun di Stasiun Mangga Dua,jalan sebentar deh,"kata pemilik sebuah toko computer di Sukabumi itu.
Sejak pertama kali resmi dioperasikan pada 13 Desember 2008, keberadaan KABG memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan alat transportasi yang murah,efektif dan cepat. Dalam pidatonya saat peresmian KABG, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengatakan bahwa moda transportasi kereta lebih diproritaskan karena merupakan angkutan masal yang bebas macet.
"Selain itu ongkosnya pun lebih murah. Inilah yang menyebabkan kehadiran kereta sangat dinantikan masyarakat. Saya berharap ke depan frekuensinya akan ditambah,"ujar Menhub.
Sebelum ada KABG, di jalur Sukabumi-Bogor beroperasi KRD kelas ekonomi. Namun tercatat sejak 10 Maret 2006, aktifitas KRD tersebut dihentikan. Itu terpaksa dilakukan karena kondisi jalan rel di jalur tersebut yang mengalami kerusakan yang parah dan mengancam keselamatan para penumpangnya.
Namun penghentian operasi KRD jurusan Bogor-Sukabumi itu menuai penyesalan dari masyarakat Bogor dan Sukabumi. Mereka jadi kehilangan moda angkutan cepat dan murah. Berangkat dari situasi itu, Departemen Perhubungan lewat Ditjen Perkeretaapian melakukan perbaikan jalur rel Bogor-Sukabumi. "Dana yang dihabiskan untuk melakukan perbaikan itu adalah Rp.4 milyar,"ungkap Direktur Teknik dan Prasarana Ditjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan Hermanto.
Proses perbaikan jalan rel di jalur tersebut dilaksanakan 2 tahap. Tahap pertama dilakukan pada 2007 antara Stasiun Bogor dan Stasiun Batu Tulis sepanjang 5 kilometer. Kemudian dilanjutkan tahap kedua pada 2008 sepanjang 52 km, dari Stasiun Batutulis ke Stasiun Sukabumi.
Menurut Hermanto keberangkatan KABG dimulai dari Stasiun Sukabumi dengan jadwal keberangkatan pukul 05.00 WIB dan tiba di Stasiun Bogor pukul 07.10 WIB. Sedangkan untuk pemberangkatan dari Bogor adalah pukul 17.00 WIB. Diperkirakan KABG sampai di Sukabumi pada pukul 19.00 wib.
"Dengan jarak tempuh 57 km dan kecepatan 40 km/jam, Bumi Geulis hanya menempuh perjalanan dua jam. Terlebih rel yang digunakan adalah rel tipe besar, sehingga kemampuannya masih terbatas dan kecepatannya pun tidak kencang,"katanya. Untuk tahap awal PT. KAI menetapkan tariff Rp 8.000.
Dalam satu kali perjalanan KABG mampu mengangkut 133 penumpang per gerbong. Otomatis dengan jumlah rangkaian 4 gerbong, secara keseluruhan KABG bisa menampung 532 penumpang. Selain Bogor dan Sukabumi, KABG juga akan berhenti di 13 stasiun lain,diantaranya Stasiun Sukabumi, Stasiun Cisaat, Stasiun Karang Tengah, Stasiun Cibadak, Stasiun Parungkuda, Stasiun Cicurug, Stasiun Cigombong, Stasiun Ciomas, Stasiun Batutulis, dan Stasiun Bogor.
Kendati demikian, dalam kenyataannya penumpang yang menaiki KABG selalu melebihi kapasitas sebenarnya. Itu dibuktikan dengan pemandangan yang tersaji pada Sabtu sore di pertengahan Mei itu. Selain penumpang yang menduduki kursi yang telah disediakan,juga terdapat ratusan penumpang lain yang berdiri berdesak-desakan. Bisa jadi, saat itu jumlah penumpang bukan lagi 532,tapi sudah mencapai angka 1000.
"Maunya sih kami duduk saja di atas.Tapi ternyata itu tidak diperbolehkan,"ujar Arie sambil nyengir saat seorang penjaja makanan secara tak sengaja menyenggol perutnya.
Situasi itu, memunculkan harapan di kalangan masyarakat agar armada KABG ditambah. Menurut Tuti Kania (25),KABG yang ada sudah tidak lagi bisa memuat penumpang. Kalau dipaksakan, yang ada malah kereta apinya jadi rusak dan tidak nyaman lagi. "Makanya tambah dong,ya setidaknya jadi dualah,"ujar perempuan muda asal Bogor yang sering menggunakan jasa KABG itu.
Kondisi selalu kelebihan kapasitas,diakui oleh Budi Mulyana, Kepala Stasiun Sukabumi. Walaupun pihaknya berulang kali menyarankan para penumpang untuk tidak memaksakan diri, namun tak pelak mereka tetap naik KABG. "Kami tentu saja tak bisa melarang mereka untuk naik,bisa jadi mereka punya keperluan mendesak saat mau ke Bogor,hingga rela berhimpitan,"katanya.
Tingkat kebutuhan masyarakat Bogor dan Sukabumi terhadap KABG ternyata begitu sangat besar. Alih-alih kapok naik KABG, mereka malah mengharapkan pemerintah dan pihak PT KAI untuk menambah lebih banyak lagi kereta api model Si Geulis itu. "Lagian sekali-kali kami juga mau dong nyantai menikmati pemandangan siang hari,jangan hanya subuh dan sore saja,"ujar Darma mengacu kepada jadwal KABG.
(hendijo)
Tag: reportase, Bogor, sarana, layanan, krl, KAI, sukabumi
Pantau
Terkait:
-
Kapan KRL Jabotabek Profesional?
Selasa, 29 Sep '09 05:57 -
Berjuang Melawan Batas
Minggu, 4 Okt '09 14:37 -
Keberadaan kran air siap minum yang belum termanfaatkan
Minggu, 4 Okt '09 00:23

Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
sok aja kang...dijamin keringatan...saking membludaknya
Betul sekali mas, menurut pihak PT KAI…kontur rute ini tidak memungkinkan untuk lebih dari 4 gerbong…Bahkan kecepatannya pun katanya tidak bisa melebihi 40 km/jam,karena dikhawatirkan anjlok atau terguling…Itulah yang menyebabkan kereta jalur ini agak lambat
Silahkan login untuk memberikan pendapat