Masalah Papan Berpilox di Pananjung Pangandaran 18
Minggu, 27 Sep '09 01:08
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Sebenarnya informasi, jumlah dan penyebaran papan-papan petunjuk bagi pengunjung Taman Wisata Alam seluas 38Ha yang merupakan bagian dari 530Ha luas keseluruhan wilayah Cagar Alam Pananjung Pangandaran dimana masih banyak monyet-monyet berkeliaran dan wisatawan dapat mengunjungi goa alam juga goa Jepang, sudah sangat memadai, kalau saja papan-papan tersebut tidak dicorat-coret dengan cat semprot warna merah-jingga yang mencolok.
Dugaan pertama tentu saja jatuh pada tangan-tangan jahil, sampai saya temukan papan lain yang lebih kecil dengan petunjuk arah bertuliskan 'informasi goa alam' yang dipasang lebih rendah. Papan-papan itu juga tak kalah banyaknya dengan papan besar bercoretan tersebut di atas. Dan yang mencurigakan adalah bahwa papan kecil ini dibuat dengan cat semprot yang sama dengan cat yang dipakai untuk mencorat-coret papan lainnya. Begitu diikuti ternyata papan-papan petunjuk kecil itu membawa kita ke tempat berkumpulnya para guide lokal yang siap memandu pengunjung keliling TWA, bahkan ada yang menawarkan paket komplit untuk seluruh obyek wisata di Pangandaran.
Ada apakah ini? Kenapa guide lokal sampai melakukan vandalisme seperti itu?
Salah seorang petugas TWA, yang saya tanyai tampak segan menjawab pertanyaan tersebut. Dia cuma menyatakan bahwa aksi corat-coret papan petunjuk yang telah terjadi berulang kali itu dilakukan oleh oknum tertentu. Sampai akhirnya pihak petugas pasrah saja dan tidak lagi berusaha membuat papan petunjuk baru.
TWA yang terkenal dengan pantai pasir putih dan Cagar Alam Laut seluas 470Ha dengan terumbu karang dalam kondisi cukup baik ini rupanya menyimpan ketidakharmonisan hubungan antara guide lokal dengan petugas. Hal ini terungkap kemudian ketika seorang kawan seperjalanan yang dulu bertugas di Taman Nasional Gunung Kerinci ikut ambil bagian dalam obrolan. Menurutnya, para petugas di TWA Pananjung Pangandaran seharusnya merangkul potensi guide lokal dengan cara melibatkan mereka untuk bekerjasama dalam kegiatan pariwisata di TWA dengan memberi pelatihan sehingga di kemudian hari petugas hanya melakukan tindak pengawasan dan mengorganisir guide lokal tanpa perlu terjun langsung sebagai pemandu wisata. Program yang sama pernah sukses ia terapkan di Kerinci bertahun silam. Dengan demikian tidak akan ada lagi tindak vandalisme seperti aksi corat-coret tersebut.
Semoga saja ada yang cukup peduli dan bertindak nyata merealisasi ide itu.
Tag: sarana, pangandaran, pananjung, pantai pasir putih, taman wisata, guide
Pantau
Terkait:
-
Berjuang Melawan Batas
Minggu, 4 Okt '09 14:37 -
Keberadaan kran air siap minum yang belum termanfaatkan
Minggu, 4 Okt '09 00:23 -
Polisi Tidur Memang Gebleg!
Kamis, 1 Okt '09 11:37
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
le renard: Perlu
-
mawi wijna: Penting
-
hendijo: Penting
-
didinu: Penting
-
XHL: Penting
-
yusro: Perlu
-
Yudiantoro: Penting
-
Antyo Rentjoko: Penting
-
ndableg: Bagus
-
gunturgeni: Bagus
Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
abis sebel banget liat coret2an ituh
misalnya ada larangan untuk berdagang di pantai. hal itu sebenarnya bisa dimaklumi mengingat pantai tersebut termasuk dalam wilayah cagar alam. tapi daripada banyak pedagang liar yang tak bertanggung jawab seharusnya bisa dibuat sarana khusus semacam kantin untuk lokalisasi pedagang.
selain guide dan pedagang, ada juga masalah 'penyelundupan' pengunjung oleh tukang2 perahu. dengan membayar Rp 5.000,- pengunjung akan diantar mengintip taman laut dan masuk TWA melalui pantai pasir putih tanpa harus membayar tiket resmi seharga Rp 7.000,-
menurut pedagang dan petugas yang sempat saya ajak ngobrol, petugas bukan tidak mengetahui pelanggaran2 tersebut. petugas acap kali melakukan razia terhadap pedagang dan pengunjung yang masuk tanpa tiket resmi. dan di lain waktu petugas benar2 cuek terhadap pelanggaran2 itu.
sampai hari dimana saya berkunjung, secara legal mungkin cuma warung2 di halaman depan TWA saja yang secara nyata mampu membantu penghasilan warga.
semoga ada pembaca yang bisa bantu lebih lanjut ya...
eh, tapi kalau bayar Rp2.000,- untuk ganti ongkos cetak brosur masih rela dong?
seperti kemarin di pantai pasir putih, saya dan teman2 'gatel' melihat banyaknya sampah yang ditinggalkan wisatawan, lantas saja kami memunguti sampah tersebut, meski cuma selewatan terbukti beberapa wisatawan memperhatikan dan merapikan sampah mereka sendiri.
kalau menyangkut corat-coret ini, harus bagaimana ya?
Prihatin kadang kalau ketemu yang seperti ini
kalau sy cuma bisa nulis dan nulis...ya sesekali munggutin sampah juga kayak anda...
persis , di Merapi dan Slamet itu batu udah kayak tembok2 di bronx
di Pantai Ujung Genteng dan Pantai Cianjur Selatan....masyarakatnya dalam 5 tahun ini hidup dari menambang pasir laut yang dijual ke salah seorang kapitalis lokal (katanya dijual lg ke Cibinong buat bahan semen)...gebleg ga tuh?
Soal pengelolaan agar membawa manfaat ekonomis bagi warga, mestinya ada sejumlah cara yang bijak dan tidak merugikan si kawasan wisata dan pengunjung.
Beberapa tahun lalu saya keluar dari Candi Borobudur dan oleh rambu maupun pagar diarahkan ke labirin pasar cinderamata yang semrawut. Semua jalan keluar dihalangi.
Silahkan login untuk memberikan pendapat