Mimpi Indah Jakarta Terapung 6
Selasa, 29 Sep '09 17:25
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Pasca "kesuksesan" Transjakarta, pemerintah DKI Jakarta berencana melengkapi pengadaan sarana transportasi massal di wilayah ibu kota tersebut. Namun hingga kini, rencana besar itu seolah hilang ditelan bumi. Mengapa?
Iklan sebuah situs berita online di televisi beberapa waktu lalu itu sangat mudah diingat orang. Seorang kakek berblangkon dengan riang memeragakan kondisi Jakarta di masa depan. Ia memimpikan kehadiran monorail dalam dua kata:Jakarta terapung. Namun apakah saat ini Jakarta benar-benar sudah "terapung" ? Jawabannya tanya saja pada tiang-tiang pancang berbalut semen beton yang berjejer kaku di sepanjang Jalan HR.Rasuna Said,Jakarta Selatan dan Jalan Jenderal Sudirman,Jakarta Pusat!
Sudah sejak 2006, tiang-tiang pancang itu didirikan dan dibengkalaikan begitu saja. Padahal sejak pembangunannya digulirkan, jalur monorail tersebut rencananya harus sudah digunakan pada 2007 yang lalu. "Tapi hinga kini enggak jelas tuh keberlansungannya dan udah 3 tahun kayaknya monorel yang dijanjikan tidak muncul-muncul,"kata Satrio (24),pegawai salah satu departemen yang kantornya terletak di kawasan bisnis tersebut.
Apa yang menyebabkan rencana besar itu tak jua terwujud? Banyak faktor. Salah satunya yang utama adalah karena pemerintah pusat tidak dapat memberikan jaminan resiko untuk pembangunan monorel. Padahal, konsorsium Bank Dubai sebagai investor sudah meminta jaminan resiko itu. Namun entah mengapa,pemerintah belum memberikan juga jawaban memuaskan. "Padahal semua proyek besar harus ada jaminan,"kata Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta yang merencanakan pembangunan itu, pada sebuah kesempatan.
Usai rencana pembangunan monorel, kini pemerintah kota DKI Jakarta juga menargetkan pembangunan subway atau MRT (Mass Rapid Transit). Pembangunan fisiknya rencananya akan dimulai pada 2010 mendatang dengan menggunakan jalur trayek sepanjang 14,3 Km mulai dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan hingga Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Jalur subway dari Lebak Bulus, akan memiliki stasiun penghentian di Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas. Ditargetkan daya tempuh dari Lebak Bulus hingga Dukuh Atas hanya memerlukan waktu 28 menit saja.
Rencana pembangunan subway, mendapat sambutan beragam dari banyak kalangan.Salah satunya adalah Rita Hasibuan (27), salah seorang karyawan sebuah perusahaan perbankan di Jalan Jenderal Sudirman,Jakarta Pusat. Menurutnya, pembangunan subway adalah tuntutan zaman yang harus dipenuhi bagi sebuah kota yang menjadi pusat bisnis. "Gerak bisnis itu kan harus cepat, makanya memerlukan alat transportasi cepat juga,"ujar warga Menteng,Jakarta Pusat tersebut.
Namun pendapat berbeda dinyatakan oleh Sutiyoso. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu agak sedikit pesimis dengan rencana pembangunan subway. Itu didasarkan perhitungan proyek pegadaan subway akan memakan biaya yang sangat mahal: 1 km jalur subway = 100 juta dollar AS. Kalau dikonservasi dengan acuan ongkos Transjakarta maka seorang penumpang subway harus mengeluarkan ongkos Rp.70.000 sekali jalan."Ini yang mereka enggak paham,"ujarnya.
Namun terlepas dari semua itu, pembangunan busway, waterway, subway dan monorel merupakan upaya positif pemkot DKI Jakarta dalam memberdayakan transportasi massal yang efesien. Terlebih tingkat polusi dan kemacetan di Jakarta kini sudah mulai diambang batas toleransi. Berdasarkan fakta lima tahun terakhir penambahan jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta menunjukkan setiap hari bertambah kendaraan baru sebanyak 1.127 kendaraan terdiri dari 236 mobil dan 891 motor. Bahkan di Jadetabek (Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi) atau wilayah hukum Polda Metro Jaya setiap hari bertambah kendaraan baru sebanyak 2.027 kendaraan terdiri dari 319 mobil dan 1.707 motor.
Namun perkembangannya angka tersebut belum memperhitungkan pertumbuhan sepeda motor sehingga kemungkinan macet total akan lebih cepat atau sebelum 2014. Jika prediksi awal disesuaikan dengan fakta lima tahun terakhir penambahan jumlah kendaraan di DKI Jakarta, dimana rata-rata pertumbuhan kendaraan bermotor tetap 9,5 % per tahun, dan pertumbuhan rata-rata luas jalan tetap 9,5 % per tahun, dan pertumbuhan rata-rata luas jalan tetap 0,01 % per tahun. Maka prediksi perbandingan antara luas jalan kendaraan di DKI Jakarta, pada tahun 2011 jumlah kendaraan berdasarkan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) terdaftar sebanyak 8.506.782 unit. Dari jumlah itu diasumsikan sebanyak 5.954.474 unit berada di jalan, maka luas kendaraan di jalan mencapai 40.105.222 m2. Padahal luas jalan pada tahun 2011 itu hanya 40.093.774 m2.
Kemacetan juga menjadi sebab terbuangnya waktu secara percuma. Jika mengacu kepada perhitungan biaya bahan bakar, dan biaya kesehatan, maka kerugian akibat kemacetan lalu lintas mencapai Rp. 12,8 triliun per tahun. Bahkan hasil Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP) oleh JICA/Bappenas menunjukkan : Jika sampai tahun 2020 tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok Tangerang dan Bekasi), maka estimasi kerugian ekonomi yang terjadi sebesar Rp. 28,1 Triliun dan kerugian nilai waktu perjalanan yang mencapai 36,9 Triliun.
Jadi mengapa tidak membiarkan mimpi indah Jakarta terapung menjadi kenyataan? (hendijo)
Terkait:
-
Neraka Inggris di Timur Jawa
Selasa, 10 Nov '09 15:52 -
Keluhan dari Padang Pariaman
Sabtu, 10 Okt '09 11:15
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Klanjabrik: Bagus
-
ndableg: Bagus
-
cuekbebek: Bagus
-
le renard: Bagus
-
prajnamu: Penting
-
Yudiantoro: Bagus
-
didinu: Penting

Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
dan kalau di kolong2 jembatan saja masih banyak rumah kardus, apa jadinya lorong subway nanti?
Silahkan login untuk memberikan pendapat