Ruang Eksekutif di KA Ekonomi Serayu 15
Selasa, 29 Sep '09 09:20
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Berombongan pergi liburan pasca lebaran bukan perkara mudah. Apalagi tanpa persiapan tiket sama sekali. Kebanyakan bis sudah tak sanggup menampung sepuluh orang sekaligus. Maka, kami, dengan tekad dan niat menghindari kemacetan lalu lintas menuju tempat-tempat wisata, secara sadar memilih kereta api.
Stasiun Jatinegara tampak ramai malam itu. Sebagian calon penumpang yang saya temui berkata akan pergi mudik ke Yogya dan Solo. Pantas saja tiket KA Ekonomi Serayu jurusan Banjar masih tersedia. Jadwal berangkat pukul 20.48WIB yang molor hingga pukul 22.00WIB bukan kejutan lagi. Tiket seharga Rp 23.000,- dari harga normal Rp 20.000,- justru agak mengagetkan. Apa iya kereta ekonomi tak kena tuslah? Konon kenaikan harga Rp 3.000,- itupun masih bisa ditawar seperti pengakuan seorang bapak yang mengantri di belakang saya. Tapi segitupun sudah syukurlah.
Tunggu punya tunggu, begitu kereta datang calon penumpang sontak berjejalan masuk berebut tempat duduk kosong agar dapat menyandarkan badan untuk sekadar merem-merem ayam. Berbekal pengalaman naik kereta api ekonomi sebelumnya, saya dan rombongan tak berharap banyak. Dan malah mempersiapkan koran untuk alas duduk di dekat sambungan gerbong, itu juga kalau beruntung.
Rupanya malam itu kami memang sedang beruntung. Bukan saja sambungan gerbong terakhir masih kosong, tapi toilet kereta juga kosong dan tampak tak berfungsi meski tetap menguarkan bau khasnya. Jadilah kami bersepuluh menguasai area tersebut. Tapi kehadiran kami plus barang-barang ternyata menghalangi jalan. Beberapa kali dalam 15 menit perjalanan saja sudah harus bolak-balik duduk dan berdiri demi memberi jalan bagi petugas pemeriksa tiket, pedagang asongan dan penumpang yang masih mondar-mandir mencari tempat kosong.
Walhasil ruang toilet yang berulang kali jadi pelarian saat sedang memberi jalan itu dilirik juga. Sudah terhampar beberapa lembar kardus bekas yang masih kering di lantainya. Di sanalah kemudian sepuluh ransel dan tenda kami diletakkan. Semacam tempat penitipan barang saja jadinya. Begitupun toilet masih menyisakan ruang bagi seorang kawan untuk duduk di dalamnya. Tepat di atas kakus putih yang olehnya ditutupi kardus demi mengurangi bau tak sedap. Tak diduga dia malah paling nyaman di antara kami semua. Di dalam toilet itu, dia bisa tiduran berselonjor kaki sambil berteleponan dengan pacarnya sepanjang perjalanan. Nasi bungkus pun dia makan di sana.
Saya yang kebagian duduk di tangga depan toilet masih harus bergulat dengan pintu kereta yang tak mau menutup jika tidak diganjal kaki kuat-kuat. Mau dibiarkan terbuka kok rasanya berbahaya betul, takut ketiduran dan terlontar keluar. Belum lagi angin malam yang berhembus luar biasa dingin menuai protes dari teman-teman lain di belakang saya. Di tiap stasiun kereta berhenti, saya juga harus menyingkir agar pedagang-pedagang yang mau naik dan turun kereta dapat leluasa melintas.
Sekitar pukul 03.00WIB, kelelahan sudah merajai hingga saya tertidur begitu saja dengan separuh badan teronggok di dalam toilet. Menyandar pada tumpukan ransel yang saya jadikan bantal. Tapi tak bisa lama. Sebab bau toilet yang sangat menusuk membuat tidur saya tak nyenyak. Dan kaki saya mulai kesemutan menahan dorongan pintu kereta sekian lama. Baru saat langit mulai merah, saya rapatkan jaket dan membebaskan saja pintu kereta terbuka lebar. Udara teramat menyegarkan bagi saya yang tinggal di ibukota dan hampir tak mungkin menikmati udara sebersih pagi itu.
Akhirnya, dengan minimnya tingkat keamanan dan kenyamanana yang diberikan KA Serayu, kami selamat tiba di stasiun tua Banjar pukul 06.15WIB meski perjalanan terasa lama sekali (dan memang benar-benar lama karena selepas Bandung banyak rel tunggal yang memaksa kereta berhenti minimal setengah jam untuk memberi jalan pada kereta lain yang mau lewat dari arah berlawanan). Tapi kemarin itu sungguh pengalaman berkesan. Sudah bayar murah, dapat ruang eksklusif sekelas penumpang kereta eksekutif dan dapat kesempatan jadi penjaga pintu gerbong kereta pula. :p
Tag: toilet, ekonomi, kereta api, serayu, banjar, jatinegara, liburan
Pantau
Terkait:
-
Indonesia Siap Menerapkan IRFS Pada 2012
Selasa, 6 Jul '10 21:07 -
Penyembuhan Secara Terapi Lumba-Lumba
Senin, 22 Mar '10 14:40 -
Liburan ke Pulau Bidadari
Jumat, 19 Mar '10 17:33
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Klanjabrik: Bagus
-
le renard: Penting
-
Antyo Rentjoko: Penting
-
prajnamu: Bagus
-
ndableg: Penting
-
doeh: Responsif
-
yusro: Perlu
-
Yudiantoro: Bagus
-
didinu: Penting

Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
Hahahaha....repot dah...
Makasih deh mas, trauma naik KA Ekonomi (Jogja-senen) belum hilang sampe sekarang
Di negeri lain yang dikelola dengan niat baik, angkutan massal nan murah itu disubsidi. Di sini? Lebih asyik membicarakan PPn Barang Mewah untk mobil (tapi dapat ditawar oleh industri otomotif), atas nama keadilan -- padahal tujuannya untuk menambah kas negara, bukan untuk membiayai sarana transportasi massal.
Kebohongan publik ? class action ? atau bagaimana yah seharusnya masyarakat menyikapi ini, di satu sisi mereka ingin menyambung silaturahmi atau mencari nafkah untuk keluarga, tapi disisi lain kok terlihat mengenaskan...
Klas Ekonomi selalu menjadi incaran para ekonom-ekonom kecil macam saya dan teman2......
teriakan para asongan selalu menjadi teman perjalanan.....
Kalo mau nakal caranya gampang pas kereta penuh rame sesak dan berjejalankita masuk aja tanpa membeli tiket alias numpang........
wong kemaren ampe ada pemeriksaan tiket 5 kali nje. baru rapi2 ransel aja udah diperiksa 2 kali. apa tampang saya dan temen2 mencurigakan ya?
Silahkan login untuk memberikan pendapat