Berjuang Melawan Batas 0
Minggu, 4 Okt '09 14:37
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
"...Dan manusia tidak akan hidup jika tidak berjuang melawan batas-batasnya sendiri." (Ignazio Silone dalam Bread and Wine).
Matahari Oktober mencorong sangar. Hawanya yang panas menembus dinding-dinding putih gedung Perpustakaan Mitra Netra di kasawan Gunung Balong, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Pengatur udara dingin yang tergantung di atas dinding seolah tak berdaya memeranginya.
"Panas nian hari ini,"ujar seorang perempuan berjilbab putih sembari mengipaskan sebuah buku ke arah wajahnya.
Waktu menunjukkan angka 12.12, saat pintu perpustakaan terbuka lebar. Sepasang remaja tuna netra berseragam SMA menyeruak. Wajah mereka terlihat segar dengan hiasan senyum yang seolah tak akan lepas. "Ada buku baru, Kak?" ujar remaja yang lelaki.
"Banyak. Kalian carilah sendiri," kata perempuan berjilbab putih. Rupanya ia petugas piket perpustakaan Mitra Netra pada hari itu.
Tanpa banyak cakap lagi, kedua remaja tersebut menyebar ke arah rak-rak yang berisi tumpukan buku braille dan buku bicara (buku dalam bentuk kaset atau CD. Biasanya kaset dan CD tersebut memuat berbagai rekaman suara dari buku-buku cerita macam Laskar Pelangi, Harry Potter, Damarwulan, Ayat-Ayat Cinta dan lain-lain). Jari-jari mereka dengan tangkas meraba huruf-huruf timbul yang tertera di sisi bungkus kaset- kaset tersebut.
Dua puluh tiga menit berlalu, pencarian pun usai. Kedua remaja itu, lantas menuju perangkat tape kecil (lengkap dengan alat pendengar) yang terletak di sebuah meja kayu panjang. Hati-hati mereka memasang sebuah kaset. Jari telunjuk menekan tombol ply. Lalu larutlah keduanya dalam dunia buku.
Ogi (17) dan Erika (16), nama sepasang remaja tersebut, adalah pengunjung tetap perpustakaan milik Yayasan Mitra Netra (YMN). Itu adalah nama lembaga nirbala yang memusatkan programnya pada upaya peningkatan kualitas dan partisipasi tuna netra di bidang pendidikan dan lapangan kerja.
Menurut Drs. Irwan Dwi Kustanto, hampir setiap hari kerja, perpustakaan tersebut selalu dipenuhi sekitar 30-50 tuna netra. "Semangat dan kebutuhan mereka akan buku bacaan tak kalah dengan orang-orang yang berpenglihatan," kata Wakil Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra itu.
Pembentukan YMN awalnya oleh acara kumpul-kumpul dan diskusi sejumlah tuna netra mengenai nasib mereka ke depan. Rata-rata mereka mengeluhkan belum ada sebuah lembaga representatif yang memberikan pelayanan menyeluruh dan medalam terhadap tuna netra. Kalaupun ada, itu belum memenuhi kebutuhan para tuna netra.
Seperti Sekolah Luar Biasa (SLB) misalnya, "Fasilitas yang ada terlalu konvensional dan dangkal hingga wajar jika penderita tuna netra selalu diarahkan pada ketampilan memijat semata,"ujar lelaki yang mengaku sudah tidak melihat sejak usia balita tersebut.
Maka pada 14 Mei 1991, dengan dibantu beberapa orang yang berpenglihatan, mereka lantas mendirikan YMN. Upaya pertama yang dilakukan YMN adalah membuat program yang mendukung terjalinnya kerjasama antara para tuna netra dengan orang-orang berpenglihatan. Program-program tersebut di antaranya adalah latihan mengetik 10 jari dan pengadaan buku bicara.
Untuk buku bicara, proses "pembuatannya" dijalankan oleh para sukarelawan yang berpenglihatan. Merekalah yang membacakan buku-buku yang kemudian direkam dalam kaset maupun CD. Bahkan lebih dari itu, mereka pun kadang-kadang terlibat pula dalam upaya melobi pihak penerbit atau penulis agar mengizinkan karyanya diubah menjadi buku bicara.
Irwan menyatakan, YMN sangat menekankan kepada soal penyediaan buku ini. Mengapa? "Karena kami yakin buku adalah jendela ilmu. Saya yakin lewat bukulah kami bisa setara dalam hal pengetahuan dengan orang-orang berpenglihatan," ujar lelaki kelahiran 42 tahun itu.
Sekitar dua tahun yang lalu, YMN mencanangkan "gerakan 1.000 buku" untuk tuna netra. Itu adalah program penting yang bertujuan menghimpun lebih banyak lagi orang yang rela membantu upaya penyaduran buku-buku menjadi buku-buku bicara. "Peluncurannya kami adakan di Mal Ciputra, Semarang beberapa waktu yang lalu," ungkap Irwan.
Selain buku-buku umum dan pelajaran, YMN juga pernah ikut andil dalam pembuatan Al Qur'an dan Bibel berhuruf braille. Itu terjadi sekitar 1997-1998, saat 2 yayasan keagamaan yakni Yayasan Rohdatul Mahfubin dan Yayasan Letisia ingin membuat Al Qur'an dan Bibel khusus untuk tuna netra.
"Ya secara keseluruhan kedua yayasan itu sebenarnya yang menjadi sponsor utama. Kami hanya membantu bidang teknis semata," kata alumni Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tersebut.
Seiring dengan berjalannya waktu, kini bidang pendidikan yang ditangani oleh YMN sudah merambah ke segmen lain. Misalnya pendidikan ilmu komputer dan bahasa Inggris. Bahkan selain program pendidikan, YMN pun menyediakan program rehabilitasi, penyediaan informasi dan komunikasi, tenaga kerja serta penelitian dan pengembangan.
"Kami sudah berhasil membantu sekitar 50 sarjana tuna netra baik S1 dan S2 lulus di universitas masing-masing. Lalu sekitar 300 tuna netra yang ahli ilmu komputer sudah pula berhasil kami lahirkan," kata Irwan dalam nada bangga.
Matahari Oktober masih mencorong sangar. Hawanya yang panas tetap menembus dinding-dinding putih gedung Perpustakaan Mitra Netra di kawasan Gunung Balong, Lebak Bulus. Kendati demikian, Ogi tak bergeming. Alih-alih kegerahan, ia malah semakin asyik dengan head phone yang melingkar di kepalanya.
"Kalau Tuhan mengizinkan, saya ingin menjadi seorang psikolog. Itulah sebabnya saya perlu banyak membaca," katanya seolah ditegaskan kepada batas-batasnya sendiri. (hendijo)
Tag: reportase, sarana, lebak bulus, gunung balon, tuna netrag, YMN
Pantau
Terkait:
-
Berharap Pada 'Bumi Geulis'
Rabu, 16 Sep '09 00:25 -
SUARA DI PINTU AIR
Minggu, 22 Nov '09 20:06 -
Keberadaan kran air siap minum yang belum termanfaatkan
Minggu, 4 Okt '09 00:23

Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat