Perlukah Kita Minta Kompensasi dari PLN? 10
Kamis, 8 Okt '09 05:17
Selasa lalu PT.PLN memasang iklan permintaan maaf di harian Kompas. PLN minta maaf atas pemadaman listrik bergilir yang menimpa sebagian warga Jakarta dan terjadi akibat terbakarnya trafo di gardu induk tegangan tinggi Cawang Jakarta.
Langkah ini merupakan pertama kali dilakukan PLN. Selama ini PLN sering cuek bebek jika mereka melakukan pemadaman listrik sepihak. PLN tak pernah memikirkan dampak pemadaman dan tak pernah merespon komplain pelanggan.
Padahal akibat tindakan PLN melakukan pemadaman listrik, kerugian materi yang diderita pelanggan tak sedikit. Yang paling terasa adalah tak berfungsinya alat-alat rumah tangga yang menggunakan sumber listrik. Belum lagi mereka yang mempunyai usaha rumahan dengan listrik sebagai sumbernya, kerugian tak terhitungh lagi.
Anehnya selama ini tak pernah ada kompensasi yang diberikan oleh PT PLN bagi pelanggannya. Pelanggan dipaksa memakan semua kerugian sendirian. Untung dimakan PLN, kalau rugi di pihak pelanggan ya rasakan sendiri.
Kalau melihat logika berpikir PLN, perlukah kita pelanggan listrik meminta kompensasi pada PLN akibat pemadaman listrik? Karena jika dibiarkan, PLN akan terus bersikap seolah tak bersalah melakukan pemadaman sepihak. Padahal ada konsumen yang dirugikan akibat tindakan mereka.
Untuk layanan listrik di negeri ini, pelanggan memang bukan raja. Pelanggan memang hanya hamba sahaya yang selalu sial nasibnya.
Tag: PLN, syaifuddin sayuti, listrik
Terkait:
-
Byaar Pet... Apa sih Cita-citanya PLN?
Senin, 9 Nov '09 03:51 -
Gardu PLN Rusak, Negara Rugi Rp 500 Miliar
Senin, 12 Okt '09 11:28 -
Jembatan UKI Rawan Celaka!
Selasa, 5 Jan '10 09:25


Mawar, bukan nama sebenarnya

Komentar:
tau stok listrik terbatas masih aja boros listrik. lagian kalo buat industri kan tarifnya harus beda ma yang rumhan, masih banyak yang nyolong2 make tagihan rumahan buwat industri.......
saya pikir dengan dikelola oleh swasta (terutama pendistribusiannya), semoga bisa lebih baik. saya membandingkannya dengan industri telekomunikasi.
dulu jaman Telkom masih memonopoli, pelayanannya buruk. tarif mahal, dan pasang telepon aja susah. coba bandingkan dengan kini. kalo pelanggan tak puas, bisa dengan mudah berganti operator, sehingga masing-masing operator akan memperbaiki kualitas layanannya.
mungkin ada usulan/pendapat lain?
saya ga setuju. ntar klo cm di kelola 1 pihak ya sama aja....
tp membuka diri terhadap masuknya pihak swasta.
jadi ttp ada prsaingan...
namun perlu di perhatikan, ini listrik mas... penyalurannya butuh kabel., mau pasang tiang takut makin banyak yang roboh. masih ingetkan alasan2 penolakn SUTET. kalo mau bikin galian, ntar nganggu la-lin.
TRUS MAU GMANA?????/
ADA USULAN LISTRIK NIR KABEL???
*liat aja telkom, makin keliatan memble-nya kan begitu banyak kompetitor dalam layanan fix-phone*
Silahkan login untuk memberikan pendapat