Sumbangan (Paksaan) PMI di Blok M Cineplex 21 6

Senin, 19 Okt '09 12:49

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Ketika membeli tiket untuk nonton Surrogates di Blok M Cineplex 21, saya terkaget ketika si mbak penjaga tiket menyebut harga, "lima puluh dua ribu". Hah, sejak kapan tiket bioskop itu naik?

Setahu saya, harga tiket di Blok M 21 itu 25 ribu di wiken dan 15 ribu di hari non-wiken.

Belum sempat saya bertanya, saya mendapatkan jawaban ketika menerima tiket. Rupanya ada 2 lembar kertas berwarna merah yang bertuliskan kira-kira "sumbangan PMI" selain selembar tiket 21 yang berisi 2 potong dalam 1 kertas itu.

Entah kenapa rasanya saya kok ngganjel. Masalahnya bukan seberapa besar uang yang saya sumbangkan untuk PMI melalui tiket yang "diikutkan" di pembelian tiket yang "cuma" seribu rupiah per tiket), tapi cara yang "memaksa" orang untuk menyumbang itu yang kurang berkenan di hati saya.

Beberapa hari sebelumnya saya nonton di Platinum XXI (di gedung fX), ketika membeli tiket, si mbak penjaga tiket cukup menawarkan apakah saya hendak menyumbang untuk PMI atau tidak. Jika iya maka akan diberi potongan tiket, tapi bila tidak juga tidak masalah.

Saya merasa, "memaksa" konsumen untuk menyumbang apa pun tanpa pemberitahuan seperti apa yg dilakukan di loket 21 Blok M itu kok rasanya melanggar hak konsumen ya.

Saya tidak tau apakah ada semacam "setoran" yang diserahkan ke PMI sehingga kesannya kok Blok M 21 mengejar setoran dengan memberikan bukti jumlah "tiket PMI yang terjual". Namun bila ada, entah pihak mana yang perlu diminta konfirmasi, pihak PMI atau Cineplex 21-nya?

Saya tidak tahu bagaimana dengan bioskop-bioskop lainnya (terutama di jaringan 21 dan XXI). Apakah mendapat "paksaan" semacam ini?

 


Tag: PMI, Cineplex 21, Blok M, XXI

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Antyo Rentjoko 0 0
Dari dulu saya nggak suka cara paksa seperti ini. Bahkan tambahan Rp 1.000 untuk barang/jasa Rp 1 juta pun bagi saya mengesalkan. Akan lebih sopan dan bagus jika konsumen ditawari, "Mau nyumbang, Mas? Mau amil beraa tiket sumbangan?" Bisa saja kita merelakan seluruh kembalian untuk sumbangan. Lha wong rela kok. : (
boneth 0 0
setuju..
klo ditanya dulu, rasanya kita lbh dihargai dan kita lbh sadar apa dan pd siapa sumbangan kita ituh..
klo maen potong2 ajah kan kesannya pemaksaan,. bukanny klo sumbangan yg dipaksakan jatohnya kita jd ndak ikhlas.. malah ndak mbawa kebaikan jdnya.. : (

sperti yang Antyo Rentjoko sebutin bener bgt, klo kita ditanya dulu, bisa ajah kita malah nambahin/lbhin dari cuma 1lbr/1 tiket.. bukannya lbh baik bgtu??
indhira 0 0
kesannya jadi seperti jualan tiket sumbangan : |
Nazieb 0 0
Masih ada ya? Terakhir saya "dipaksa" model begitu sekitar tahun 2008 kemarin di Hollywood 21.
wong cilik 0 0
Nazieb: bukannya begini2 sudah sering ada yah?
alisyah 0 0
kok nambah gitu? saia nonton di 21 semanggi sumbangan tersebut udah termasuk dari uang tiket *saia nontonnya sekitar sebulan yg lalu, pas masih suasana lebaran*

Silahkan login untuk memberikan pendapat