"Di"... Kala Disambung, Ketika Dipisah 9
Selasa, 27 Okt '09 05:05
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Pasangan dua huruf itu kerap membuat pembaca tersesat akibat membaca tulisan kita. Dalam tata bahasa nasional kita, di bisa berperan dalam dua fungsi. Sebagai awalan atau kata depan.
Di sebagai awalan punya peran menentukan sebuah kata kerja menjadi pasif. Kata kerja bunuh yang netral bisa menunjukkan si subyek bertindak atau berposisi aktif ketika ditambahkan awal me. Contoh: Me + makan -> Memakan. Dalam bentuk kalimat, bisa dicontohkan dengan Badu memakan harimau.
Ketika pada kata makan diberi awalan di, maka subyeknya berposisi pasif, atau yang semula subyek (pelaku) menjadi obyek. Pada contoh kalimat Badu dimakan harimau, maka si Badu bertukar peran dengan harimau, yang menjadi pelaku (dari sebelumnya obyek semata).
Sedang di pada fungsi sebagai kata depan, penulisannya dipisah. Ciri-cirinya adalah di + (bukan kata kerja). Cara mengenalinya mudah saja. Ketika di diganti me tidak enak didengar atau janggal, maka berarti penulisannya harus dipisah. Contoh, ketika di pada kata Solo terasa janggal ketika digantikan dengan me, maka bisa dipastikan ia bukan awalan sehingga dipisah penulisannya. DiSolo tak bisa digantikan dengan meSolo atau menyolo, bukan?
Hehehe... ini tips ringan saja. Jangan sampai terjadi seperti posting Dodo dimana terdapat banyak kesalahan. Pada paragraf pertama saja, sudah terdapat kesalahan serius, sehingga tampak adanya ketidakajegan (inkonsistensi), seperti ditunjukkan pada baris pertama dan kedua.
Salam
Tag: di, me, awalan, kata depan, subyek
Pantau
Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
-- Ada yang bilang pada saya, kata sambung "dimana" seperti dalam kalimat di atas itu sebenarnya tidak tepat. Contohnya kalimat ini :
Publikana, where people can share their experience, is a cool site.
tidak bisa diterjemahkan menjadi :
Publikana, "dimana" orang bisa berbagi pengalaman, adalah situs yang keren.
akan tetapi menjadi :
Publikana, "tempat" orang bisa berbagi pengalaman, adalah situs yang keren.
Maaf, Pak Blontank, saya tidak berhasil menemukan penjelasannya, tapi tahu dari para senior di tempat nguli saja.. hehehe
Terima kasih sudah mengangkat soal bahasa di sini, Pak
kalau konsisten dengan di + keterangan tempat, seharusnya memang dipisah. sejauh ini, saya masih mengacu pada 'kelaziman', yang mungkin juga karena sudah kaprah, mungkin juga ada pengecualian.
matur nuwun
*budhal nyari referensi untuk berbagi kembali... sambil nglirik PamanTyo*
Adapun "di mana" sebagai padanan "where" akhirnya lebih diterima, tetapi kalau ada yang menggunakan "siapa" atau "yang siapa" untuk "who", "whom", dan "whose" kadang dianggap aneh. Kenapa aneh? Lebih enak "orang yang" atau "dialah/merekalah".
Soal "di mana" ini memang merepotkan. Saya jarang menggunakannya dalam konteks itu.
jadi, sayalah yang keliru menempatkan di pada kata 'dimana' di posting saya.
demikian pencerahan yang saya peroleh dari penyair Sitok Srengenge. salam.
blontank poer: terima kasih lagi, Pak. btw, ternyata Paman Tyo kalau dilirik langsung muncul
Alih-alih menggunakan "di mana", lebih baik menggunakan "di tempat". Karena "di" diikuti dengan "mana" (yang umumnya mengacu ke suatu pertanyaan) itu yang membuat rancu.
Penggunaan "where" dan "where" yang ditransliterasi ke Bahasa Indonesia harus dilakukan dengan lebih jeli.
(Kalau tidak salah, saya mendapat penjelasan mengenai hal ini ketika "kursus" menjelang Ebtanas, dengan sang tutor yang sedikit-sedikit bilang "menurut Badudu dalam bukunya..."
Lantas bagaimana dengan "memercayai" (bukan "mempercayai"), "tepercaya" (bukan "terpercaya"), dan "becermin" (bukan "bercermin")? Sejauh ini belum semua orang terbiasa.
Kejanggalan versus kelumrahan memang tiada habisnya. Penganut "kelumrahan" biasanya bertumpu pada alasan "setiap bahasa mengenal perkecualian" dan "jangan mengubah (atau malah merubah) yang enak menjadi tidak enak".
Nah ditengah kegalauan itu, masih ada ruang untuk memperkaya bahasa. Misalnya "memurah" (proses menjadi lebih murah secara terus menerus -- serupa kasus "menurun" dan "meninggi"). Lantas bagaimana dengan "melapar" yang kadang muncul di milis, mikroblog, dan jejaring sosial lainnya?
Sebetulnya dari media sosial saya banyak berharap tentang pengayaan bahasa Indonesia, bukan sekadar penerusan dan perluasan kesalahkaprahan.
Apa tadi? Sekadar atau sekadar? Saya salut terhadap Hedi yang menamai blognya "sekadarblog[.com]".
Adapun saya sendiri masih belajar berbahasa Indonesia. Salah hasil: saya masih belum konsisten dalam penggunaan partikel "pun" -- mana yang untuk menekankan atau tempelan pemantas (terutama pada awal kalimat), dan mana yang berarti "juga" (biasanya "pun" dipisah. Yang saya maksudkan sebagai tempelan pemantas misalnya "adapun", "meskipun", dan "walaupun".
Tentu saya pun mengidap kewangkotan dalam hal tertentu. Misalnya saya selalu menulis "orangtua" untuk parents dan "orang tua" untuk orang yang sudah tua (sebaya saya hahaha).
* bahasa Indonesia yang baik dan benar itu untuk orang asing -- benarkah?
Silahkan login untuk memberikan pendapat