Enak Juga Naik Bajaj BBG 2
Minggu, 22 Nov '09 05:08
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Suatu malam dari kampus di Salemba Jakarta Pusat. Karena jemputan kantor gak datang-datang, entah kenapa muncul rasa iseng ingin naik bajaj menuju kebon sirih. Asyik juga kali naik bajaj, secara sudah berapa tahun tak pernah lagi naik di kendaraan umum asal India ini.
Dulu saat remaja, Bajaj menjadi salah satu pilihan, meski bukan yang utama untuk bepergian di ibukota. Biasanya memilih kendaraan beroda tiga ini karena daya jangkaunya yang lebih personal, mirip dengan taksi tapi tarifnya beda. Bajaj bisa masuk ke kampung-kampung dan jaraknya pun terserah. Sementara taksi biasanya enggan jika jarak yang kita tempuh tak terlalu jauh.
Saya sengaja milih Bajaj BBG alias berbahan bakar gas. Alasannya cuma satu, tak ingin kegelian karena getarannya yang aduhai itu. Karena konon kabarnya getaran Bajaj yang satu ini jauh lebih smooth dibanding seniornya.
Benar saja, menurut saya Bajaj BBG jauh lebih bersahabat dibanding bajaj biasa. Ruang dalamnya agak lapang. Dengkul masih lumayan leluasa bergerak dibanding Bajaj biasa yang terasa sempit. Dan yang lebih penting getarannya itu lho yang asyik. Tidak terlalu kuat, tapi juga tidak terlalu pelan. Memang soal getaran menjadi ciri khasnya Bajaj. Kalau tanpa bergetar ya bukan bajaj.
Karena menggunakan gas, jelas moda transportasi ini bisa jadi pilihan untuk sekedar JJS di lingkungan. Lebih hijau, kita tidak dipaksa menghirup asapnya saat Bajaj berjalan.
Saya bermimpi metro mini atau bis kota lainnya semua menggunakan gas, wah bakal lebih segar udara Jakarta.
Yang mengherankan, ternyata harga Bajaj BBG lumayan tinggi. Menurut pak sopir, harganya bisa mencapai 80 juta-an. Hah? Seharga mobil biasa dong!! Masak iya sih? Entah karena masih asli India atau karena langkanya. Yang jelas setorannya pun lebih tinggi Bajaj BBG dibanding bajaj biasa. Bajaj biasa setorannya cuma 40 ribuan. Sementara Bajaj BBG bisa mencapai 120 ribu sehari.
Buat pengemudi, meski mengaku berat namun lebih sering angka setoran terlampaui. Itu artinya masih banyak warga ibukota yang memanfaatkan moda transport yang satu ini.
Ke depan saya berharap moda transport berbahan bakar Gas bisa diberi tempat yang lebih. Namun khusus untuk Bajaj sebaiknya tetap hanya beroperasi di kawasan tertentu. Kalau dibiarkan di tengah kota, repot juga. Jalan utama ibukota kan tak pernah nambah, sementara jumlah kendaraan bertambah terus. Bajaj selama ini kerap menjadi kendaraan yang merepotkan para pengguna jalan, karena sering menyalip diantara sempitnya celah antar kendaraan.
*bgr diambil dari Google.
Tag: jakarta, syaifuddin sayuti, bajaj bbg
Pantau
Terkait:
-
Instrospeksi Kemerdekaan 65 Tahun Republik Indonesia
Kamis, 19 Agu '10 11:35 -
Harta Bang Foke Menjadi 46,9 Milyar
Kamis, 12 Agu '10 10:07 -
Nama Ariel Peterpan (Peterporn) Menjadi Ariel Tabah Sabaruddin
Selasa, 13 Jul '10 16:31

Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat