SUARA DI PINTU AIR 5

Minggu, 22 Nov '09 20:06

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Bekerja siang malam, menafikan rasa lelah. Setiap waktu harus memantau perkembangan ketinggian arus air dari hulu. Demi satu tujuan: memberi peringatan agar masyarakat waspada kala banjir melanda.


Bendungan Katulampa, Bogor baru saja diguyur hujan, saat Andi Sudirman mendengar panggilan itu. Ia lantas beranjak kearah meja, dan memijit panel radio komunikasi yang ada di hadapannya.Terdengar suara khas nyaring bergema,memerangi gemuruh bunyi lima air terjun dari arah pintu air. "PU dua Katulampa,tarunanya empatpuluh,delapan satu lima, delapan enam."

Begitulah kesibukan Andi Sudirman jika kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi baru dilanda hujan. Dari pagi hingga malam,telepon dan alat komunikasi di Stasiun Pintu Air Katulampa seolah tak mau henti berbunyi. Sehari bisa sekitar seratusan orang menelepon ke situ. Bahkan, pada Februari 2007, saat banjir besar melanda Jakarta, "Ada sekitar 600 orang yang menelepon ke sini, sampai pegal rasanya kuping saya,"tutur lelaki kelahiran Sukabumi 42 tahun lalu itu.

Sudah puluhan tahun Andi mengabdi di Stasiun Air Katulampa. Ia sudah bertugas di situ sejak 1987. Sebagai pegawai honorer di Dinas Pekerjaan Umum, saat itu ia hanya menerima uang Rp.23.000,-perbulan. Namun tiap tahun, honornya naik sedikit demi sedikit hingga pada 2000 meningkat sampai Rp.400.000,-perbulan.

Desember 2007, baru Andi diangkat menjadi pegawai negeri sipil.Itu pun setelah Gubernur Jawa Barat, Dany Setiawan berkunjung ke Katulampa."Waktu ditanya udah berapa lama bertugas di Katulampa, saya bilang ke Pak Dany sudah 20 tahun, eh beberapa bulan kemudian tiba-tiba datang SK (Surat Keputusan) buat saya,"kenangnya dalam nada senang.

Wajar Andi gembira. Selain mendapat kenaikan uang gaji hingga 1,3 juta rupiah, ia pun berhak mendapat macam tunjangan. Kendati untuk ukuran saat ini, jumlahnya itu mungkin tidak seberapa, tapi ia tak henti bersyukur. "Saya mah terima aja, dikasih Tuhan segitu ya syukur.Kalau nurutin nafsu mah, mana bisa kita puas,"kata ayah dari dua anak itu.

Karena menjalankan pekerjaan secara tulus, Andi mengaku sangat senang menjadi penjaga pintu air.Namun ada satu hal yang selalu mebuatnya sedih, yakni jika ada orang yang menyalahkan Bendungan Katulampa sebagai pengirim banjir ke Jakarta. "Anggapan itu jelas salah,"ujarnya.

Menurut Andi, Bendungan Katulampa bukanlah media penahan dan pengatur arus Sungai Ciliwung. Itu sejatinya adalah tempat untuk mengukur debit air dan system peringatan dini. Jika air hujan di atas ketinggian 70 cm, maka para petugas di Katulampa harus secepatnya memberitahu stasiun pintu air di Depok dan Manggarai. "Untuk menahan air banjir yang datangnya dari hulu, jelas kami tidak memiliki daya,"katanya.

Hal yang sama, dialami juga oleh Dian Nurcahyo. Salah satu penjaga pintu air di Manggarai itu mengaku tak jarang menuai caci maki dari masyarakat. Terlebih jika Jakarta dilanda banjir besar. "Orang-orang marah saat kami tidak mau menutup atau membuka pintu air semau mereka,"kata lelaki kelahiran Purwokerto 26 tahun lalu itu.

Bahkan tak jarang, karena sikap disiplin para penjaga pintu air tersebut,mereka mendapat ancaman serius. Seperti pada peristiwa banjir Februari 2007, pernah ada serombongan massa bersenjata tajam mendatangi Pintu Air Manggarai. Mereka menuntut pintu air Manggarai dibuka.

Menghadapi orang-orang kalap seperti itu, tiada lain yang dilakukan Dian dan kawan-kawannya selain melayani mereka dengan sabar. Biasanya jika menghadapi desakan model seperti itu, para penjaga pintu air selalu mengatakan: "Baik, kami akan buka.Tapi tolong buat pernyataan tertulis jika terjadi sesuatu maka anda semua yang bertanggungjawab." Demi mendengar kata-kata itu, baru orang-orang kalap itu terdiam dan pergi secara teratur.

Memang, resiko yang dihadapi oleh para petugas itu tidak main-main.Kadang mereka harus bertaruh nyawa untuk menjaga sebuah pintu air tetap berfungsi. Belum lagi rasa jenuh yang mendera. Untuk membunuhnya, mereka mencari kesibukan lain di luar tugas.

"Saya sendiri lebih senang menghabiskan waktu dengan istri dan anak saya.Tuh mereka ada di belakang,"ujar Dian seraya menunjuk sebuah ruangan sempit di belakang kantornya.

Laiknya Andi di Katulampa, Dian pun memandang profesinya sebagai tempat untuk mendulang amal baik. Sebab, menurut suami dari Nur Fadillah itu, berharap kepada gaji yang besar tentu saja sangat mustahil. "Saya saja sekarang masih ngehonor,"kata lelaki yang sudah bertugas selama 9 tahun di Dinas Pekerjaan Umum itu.

Hari semakin siang.Jakarta masih dibekap mendung. Di sebuah ruangan 2x3 meter, seorang anak muda jangkung berkulit kuning langsat tengah memanggil seseorang lewat radio komunikasi,"Katulampa, Manggarai?"

Setelah menunggu beberapa detik, suara balasan dari seberang pun muncul. "PU dua Katulampa,tarunanya empatpuluh, delapan satu lima,delapan enam." Itu artinya situasi masih normal. Debit air di Katulampa masih berkisar pada angka 40 cm dengan cuaca mendung tipis. Untuk sementara Jakarta masih aman. (hendijo)


Tag: reportase

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

luwak 0 0
amat disayangkan, kesejahteraan orang yang bertugas di posisi penting tidak diperhatikan... btw, saya pernah dengar kabar bahwa daerah Sempur di Bogor itu pada zaman Belanda dirancang sebagai situ untuk menahan aliran air ke Jakarta. tapi sekarang malah jadi pemukiman.. hmmm.. bisa gitu ya..
Antyo Rentjoko 0 0
Jakarta adalah kampung besar yang manja, bertahan karena dukungan sekitar. Bahkan untuk membuang sampah pun Jakarta butuh lahan tetangga. Adapun kesejahteraab petugas lapangan untuk banyak bidang memang yahhhh... menyedihkan. Harus kita wartakan. Nice post!
hendijo 0 0
Sori kawan-kawan, saya terlambat balas...maklum banyak kegiatan untuk nyari makan : ). Thanks atas komentarnya
hendijo 0 0
luwak:
knp tidak? Seiring hancurnya corak hidup disiplin dan ketidadaan rasa memiliki lingkungan yang berkelindan dengan sikap korup aparat, semua bisa terjadi
hendijo 0 0
Antyo Rentjoko:
ya inilah cermin bangsa yang tak pernah bisa menghargai para "pengabdinya"

Silahkan login untuk memberikan pendapat