Limbah Kepedulian 4

Selasa, 29 Des '09 15:28

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Apa yang Anda pikirkan ketika melihat limbah cucian tetangga sebelah mengalir di depan rumah Anda? Sehingga untuk masuk atau keluar rumah, Anda harus melangkah lebar-lebar atau melompat untuk menghindarinya?

Mungkin Anda berpikiran begini: “Sudah lumrah air bekas cucian mobil atau motor keleleran kemana-mana.” Tapi, kok, saya berpikiran lain. Saya melihat, tidak adanya kepedulian dari si penghasil limbah untuk tidak merepotkan lingkungannya (tetangga). Limbah cucian yang seharusnya mengalir ke selokan itu dibiarkannya dleweran dan tergenang di depan rumah orang. Mengalir di jalan umum.

Padahal sudah ada got di depan rumahnya.

Padahal, gampang banget untuk membuat air limbah itu berbelok ke selokan depan rumahnya.

Padahal, dia punya halaman sendiri yang suka-suka dia mau dialiri air bersih, limbah, atau bahkan untuk pipis anaknya.

Padahal sebagai aparat berseragam, selayaknya menjadi contoh bagi warga sekitarnya.

Padahal, tiap kali Jumaatan, selalu berdiri di barisan depan.

Ini memang lebih kepada moralitas. Saya merasa, kok, saat ini, hal-hal yang kecil seperti itu sudah menjadi lumrah.

Padahal, tidak merepotkan orang lain itu mendapat pahala.

Padahal, merawat lingkungan itu merupakan ibadah.

Padahal, sebagai orang (yang mengaku) muslim, bukankah ada ungkapan kebersihan sebagian dari iman?

Padahal, kebaikan itu seperti bukit, dimulai dari yang kecil. Dari yang sedikit, lama-lama membukit.

Padahal, tak perlu modal besar untuk meraih pahala. Hanya perlu sejumput kepedulian.

Dulu, sebelum pergi merantau, orang tua berpesan, “Baik-baiklah pada tetangga, karena di rantau saudara dekatmu itu ya tetanggamu.”

Kini, saya kok merasa, petuah itu kian usang di jaman serba ketidak pedulian ini. Saya merasa, nasehat “tetangga dekatmu adalah kerabatmu”  sudah punah. Sekarang ini, yang terjadi adalah "asal kotorannya tidak ada di rumah gue.”

Jika sudah begitu, maka kotoran, sampah, limbah dan semacamnya adalah NIMBY, not in my backyard. Maka lumrahlah buang sampah, limbah, kotoran sembarangan. “Asal tidak di rumah gue.”

Lalu, bagaimana saya bersikap? Bagi saya, ini saya anggap ujian kesabaran. Tiap kali air limbah, sampah, mengalir di depan rumah, saya anggap itu kebaikan yang disalurkan Allah SWT. Toh, pada akhirnya, memang, air limbah itu masuk lagi ke selokan depan rumah saya yang sudah dilengkapi lubang resapan biopori (LRB).

Itung-itung saya mendapat tabungan air dari tetangga sebelah. Lha khan air limbah? Benar, tapi jangan remehkan kekuasaan Allah SWT melalui mekanisme struktur tanah dalam mengurai air limbah.

Terus saya sendiri kalau mencuci bagaimana? Sedari awal, halaman rumah sudah saya persiapkan untuk meresap air dengan memasang paving blok. Dibantu LRB, maka air limbah cucian motor, siraman tanaman, saya kembalikan lagi ke bumi.

Begitu pula air hujan, sebagian saya alirkan ke halaman rumput dan LRB. Untuk disimpan. Sebagai tabungan kelak dibutuhkan.

Alhamdulillah, hampir empat kali musim kemarau, kami sekeluarga terhindar dari tiris air. Saya terngiang kembali ungkapan belasan tahun lampau, saat aktif di pecinta alam, “Alam akan berlaku seperti kamu memperlakukannya.”


Tag: moralitas, lingkungan hidup, limbah, air tanah, biopori, iman, muslim

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mawi wijna 0 0
Ingatkan saja, tentu dengan cara yang sopan. Bukankah sebagai sesama (yang mengaku) muslim harus saling ingat-mengingatkan?
nadi 0 0
mawi wijna: betul sekali mas. Lha kalau sudah diingatkan tetap mbandel gimana? Kejadian ini bukan hanya 2-3 kali, dan saya sudah menunjukkan ekspresi keberatan. Namun yang bersangkutan seolah tak merasa.
Kenapa saya tidak ingatkan secara lisan? Beberapa bulan lalu, saat dia menggunakan lahan fasum-fasos untuk kepentingan pribadi, sudah saya ingatkan lisan dan tulisan melalui pengurus RT. Hasilnya? Malah saya yang dikata-katain sok-sokan.
Tak mengapa, toh kewajiban saya sebagai sesama muslim yang saling mengingatkan sudah gugur. Urusan selanjutnya, saya serahkan kepada Allah SWT yang maha membolak-balik hati.

alisyah 0 0
Kalau udah diingatkan tapi yang bersangkutan seolah tak merasa, berarti yang bersangkutan merasa gak bersalah dengan air limbahnya yang dlewer ke depan rumah tetangganya aja. Dibiarin aja sejauh tidak terlalu mengganggu, didoain biar cepat-cepat nyadar.
le renard 0 0
dan tenggang rasa itu bisa berangkat dari sini juga ajang srawung dengan tetangga, hal-hal yang sepertinya sudah mulai dilupakan : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat