Sampah KPP Cibinong 0

Rabu, 6 Jan '10 16:27

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Asap pembakaran sampah mengepul di sudut lahan parkir Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Cibinong. Entah sudah berapa lama sampah aneka rupa itu tertimbun di sana.  Sampai-sampai bak sampah ukuran besar itu tak muat menampungnya. Sungguh nelangsa orang yang ada di sekitar bak sampah itu. Asap pembakaran yang sangit itu membuat mata pedih dan baju pun bau apek.

Situasi itu saya temui Rabu pekan lalu (23/12), saat menyerahkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi. Yang membuat saya terenyuh, cara penanganan sampah secara sembarangan itu berbanding terbalik dengan apa yang selama ini dikampanyekan Pemerintah Kabupaten Bogor: penanganan sampah dengan cara 3R (reduce, reuse, recycle).

Padahal Kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Bogor, sebagai institusi yang bertanggung jawab terhadap penanganan sampah, lokasinya tidak terlalu jauh dengan KPP Cibinong. DKP pulalah yang setahun belakangan ini gencar menyerukan kepada masyarakat umum untuk melakukan pengelolaan sampah mandiri  melalui program 3R.

Melalui sejumlah fasilitator yang mempunyai minat dan kemampuan mengelola sampah mandiri, DKP memberikan pelatihan, edukasi, dan bantuan bagi warga masyarakat yang ingin mengelola sampahnya sendiri.

Sayangnya, program bagus itu sepertinya belum menyentuh kantor-kantor dinas di sekitarnya. Artinya , belum dapat merangkul para pejabat pemerintah setempat untuk bersama-sama peduli penanganan sampah.

Bisa dimengerti jika masyarakat pun sulit untuk mengubah mindset soal sampah. Selama ini sampah dikonotasikan bau, tidak bermanfaat, tidak ada nilai ekonomis, dan segenap stigma negatif lainnya.

Untuk mengubah pola pikir itu, warga perlu contoh langsung dari para pemimpin formal dan non formal, para key opinion leader (KOL), para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Jika saja para pemimpin itu melakukan contoh dengan tindakan nyata: mengelola sampah mandiri di lingkungan tempat tinggalnya seperti yang dikampanyekan, efeknya akan langsung terasa di masyarakat.

Warga akan berpikir “Wah pak bupati, camat, lurah, ustad, pendeta, ketua parpol, ketua RW, ketua RT, mau mengelola sampah. Mereka tidak hanya omong doang. Yuk kita dukung ramai-ramai!”.

Bukankah rakyat itu sebagaimana pemimpinnya?

* Tulisan ini pernah saya terbitkan di sini. Setelah saya pikir, temanya kok pas dengan roh Publikana. Terima kasih.


Tag: sampah kota, kelola sampah, 3R, cibinong, sampah rumah tangga

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat