Kebohongan 0

Selasa, 26 Jan '10 22:51

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Kebohongan bolehkan digunakan untuk meraih kemenangan?  Di padang Kurusetra para Pandawa gundah. Durna, senapati para Kurawa demikian hebat, kesaktiannya tak tertandingi. Puluhan ribu pasukan Pandawa telah dihancurkannya.

Arjuna, senapati Pandawa bertempur dengan gagah berani. Tetapi Krisna, kusir Arjuna tahu, jika Durna sudah membaca mantra Bramastra tak akan ada ksatria Pandawa yang mampu mengalahkannya. Maka Krisna mengajukan jalan keluar.

“Jika kita mengikuti tata krama perang dan setia pada dharma, kita tidak akan meraih kemenangan. Kita harus mengabarkan telah membunuh Aswatama, anak Durna. Dengan berita itu semangat bertempur Durna pasti akan lenyap”

Para Pandawa resah. Mengabarkan kebohongan artinya meninggalkan dharma ksatria. Tidak satu pun mereka pernah melanggar dharma. Namun mereka juga setuju jika tidak ada yang melakukannya maka kemenangan tidak akan menjadi milik mereka.

“Baiklah, aku akan melakukannya” tiba-tiba Yudhistira memecah keheningan. “Biarlah aku menanggung dosa ini”. Semuanya terkejut sekaligus sedih, ksatria Pandawa paling utama bersedia melakukan tindakan tercela. Pantaskah kehinaan ini nantinya?

Bima membantu Yudhistira.  Seekor gajah besar bernama Aswatama ia pukul dengan gada. Sekali pukul kepala gajah itu remuk. Segera ia berlari ke medan perang, di dekat kereta Durna ia berteriak “Aswatama telah mati, aku telah membunuhnya”. Suaranya menggelegar, namun dada Bima sesak, telingga berdengung kencang dan tubuh tegapnya itu tiba-tiba lunglai.

Durna mendengar suara Bima, namun ia tidak percaya. Ia suruh kusirnya memutar kereta, mendatangi Yudhistira. “Benarkah ucapan Bima ? Katakanlah Yudhistira, engkau adalah putra Pandu yang paling utama. Engkau pasti mengatakan yang sebenarnya”.

Yudhistira menghentikan keretanya, menatap maha guru Durna. Mulutnya tercekat “Ya, Aswatama telah mati”. Dorna tersentak. Dengan lirih Yudhistira melanjutkan kalimatnya “Aswatama, gajah itu”. Tetapi kalimat ini tidak lagi terdengar oleh Durna. Saat itu hatinya telah remuk, ia menjerit dan melenguh sekuatnya.

Sesudah mengatakan kebohongan itu Yudhistira tertunduk lesu, tak sanggup lagi menatap padang Kurusetra. Keretanya yang sebelumnya melayang tiga depa dari atas tanah tiba-tiba melayang jatuh ke tanah. Kereta berguncang keras, Yudhistira pun hampir terjatuh.

Durna menghentikan kereta, membuang busurnya dan di atas kereta ia bersemedi. Drestajumena memanfaatkan situasi, ia melompat ke kereta, menghunus pedang dan sekali ayun kepala Durna terlepas dari lehernya jatuh berguling di tanah.

Bala pasukan Pandawa bersorak-sorai, tetapi semua ksatria Pandawa tertunduk lemah. Angin kencang berdebu menderu-deru menerpa ke arah mereka. Tubuh mereka penuh debu, wajah ksatria mereka  kini menjadi kotor.

Cimacan, sore hari, 26 Januari 2010


Tag: wayang, ksatria, kebohongan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat