Sepak Bola PSSI 2

Senin, 8 Feb '10 00:32

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

            TimNas Tak Mampu Berbuat, PSSI Harus Bertanggung Jawab.!

Oleh * Wahyu Eko Prsetyo *

            Kegagalan demi kegagalan telah di raih oleh timnas PSSI. Setelah di Sea Games 2009 Laos, Timnas yunior kalah bersaing dengan Laos yang sejatinya tim anak bawang dalam kancah sepak bola Asia Tenggara. Keterpurukan tersebut kembali terulang setelah Timnas senior terpaksa harus menyerah 1-2 dari tamunya Oman dalam babak kualifikasi group B Piala Asia 2011. Hasil tersebut sekaligus memastikan gagalnya Indonesia untuk berlaga di putaran final Piala Asia 2011, Qatar nanti. Dan ini catatan buram awal tahun sepak bola Indonesia yang selalu berpartisapasi secara berturut-turut, sejak Piala Asia 1996 Uni Emirat.

            Hemat saya PSSI harus intropeksi diri dengan keterwujudan ini. Karena mau tidak mau PSSI adalah badan tertinggi yang menangani sepak bola Indonesia. Kebobrokan tim nas Indonesia tak lain adalah hancurnya pembinaan pemain muda, dan carut marutnya Liga yang secara riil di handel oleh PSSI. Liga merupakan salah satu bentuk program yang dimana akan bersumbangsih dalam segi pemain untuk memperkuat Tim Merah Putih. Program pembinaan pemain usia muda yang terkesan instant yang selama ini PSSI jalankan harus di ubah. Ini permainan sepak bola yang harus di bangun sejak dini, bukan seperti makanan warung yang siap saji bila dipesan. Kita sekarang sudah ketinggalan jauh dari Negara-Negara ASEAN, Laos, Myanmar adalah lumbung goal Indonesia dahulu kala, namun sekarang mereka dapat memutar balikkan keadaan dengan  terbukti mampunya Laos menundukkan Timnas U-23 dalam laga Sea Games kemarin. Jika kita berpikir dengan nalar rasio yang waras, kita jangan berkoar – koar dalam lingkup jauh internasional. Merajai dulu sepak bola ASEAN adalah harapan utama kita. Bila dalam lingkup ASEAN kita tak mampu berbuat banyak, secara logika kita akan remuk dalam konteks lingkup luas (internasional).

            Mungkin hari-hari ini kita sering mendengar nama Hendri Mulyadi. Apa yang telah di lakukan oleh Hendri Mulyadi, ketika itu pria asal Semarang dengan sengaja merangsek masuk ke dalam lapangan pertandingan adalah bentuk seruan moral untuk setake holder dalam tubuh PSSI. Menurut Hendri Mulyadi, apa yang dilakukannya bukan ada niatan melecehkan pemain atau bahkan Timnas Merah Putih, akan tetapi dia memberikan seruan moral bagi pentolan-pentolan PSSI yang duduk berwajah buram di tribun VIP yang kebetulan menyaksikan Indonesia Vs Oman, (Kompas 09/01/10). Dalam tesis saya PSSI harus melakukan perombakan besar-besaran dalam segi kepengurusan. Dalam decade ini pasca Anwar Anas, Agum Gumelar lalu dua periode Nurdin Halid ini, tubuh PSSI di lumuri oleh orang-orang yang tak begitu tau menau tentang sepak bola. Maka hasilnya pun bukan prestasi yang di dapat oleh sepak bola Indonesia.

            Henri Mulyadi adalah pecinta sepak bola sejati, dia berani menerobos pagar betis Polisi di pinggir lapangan, hanya ingin memnyampaikan pesan moral kepada pentolan PSSI. Pandangan saya, lebih condong dengan apa yang sempat dikatakan oleh Menegpora Andi Malarangeng, bila PSSI berkata bahwa uang kendala utama tentang pembinaan pemain muda, tapi mengapa pencalonan Indonesai sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 yang sejatinya menelan dana sebanyak  trliunan, digalakkan (Sportifitas.com). Andi Malarangeng bukan bermaksud tak mendukung pencalona tuan rumah Piala Dunia 2022, tapi ini ironis sangat ketika kita melihat jebloknya prestasi Indonesia saat ini. Sekali lagi, Henri Mulyadi adalah pecinta sejati bola. Dia tak mampu menahan kegelisah ketika Timnas Indonesia terpuruk. Pesan moral yang disampaikan oleh Henri adalah bentuk kecintaan terhadap sepak bola tanah air ini. Bukan PSSI, yang selalu berdalih, berkoar, berretorika dan dibarengi embel-embel politikanal, Maka PSSI sukses menanam pohon yang lalu  mandul berbuah.

            Bangsa ini rindu akan prestasi sepak bolanya. Kegagalan demi kegagalan seharusnya di jadikan intropeksi setakeholder dalam tubuh PSSI. Berbuat kemudian bertanggung lalu jawab adalah sifat mulia. Namun bendera Merah Putih sudah pasti tak berkibar di Qatar 2011 nanti. Maukah PSSI bertanggung Jawab atas semua ini?. MAU?? 

             Wahyu Eko Prasetyo.

Anggota  LPM MITRA Universitas Islam Jember

Anggota PK.PMII Univ. Islam Jember


Tag: s

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

eshape 0 0
Aku cinta PSSI, tapi bukan PSSI yang seperti sekarang ini

Salam
Tinta Pen 0 0
eshape: sama aku juga cinta PSSI

Silahkan login untuk memberikan pendapat