Yang 'Kampungan' dari Galeri Nasional 7
Senin, 15 Feb '10 17:17
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Tanggal 14 Februari 2010 hari itu.
Dasar nasib. Di saat muda-mudi lagi ngerayain dengan pacar-pacaran dan lope-lope-an di mall-mall atau tempat wisata, gw musti jalan dengan seorang nggondess. Ke museum/ gallery pula.
Ke gallery?
Yupp. Galeri Nasional, yang berada di jalan Medan Merdeka Timur, seberang stasiun Gambir. Dari pukul 9 pagi, di salah satu ruangan di Galeri Nasional, sedang berlangsung 'Workshop Membuat Cergam bersama Aji Prasetyo dan Launching Kumpulan Cergam 'Kampungan'.
Aji Prasetyo secara khusus mengundang gw di acara itu via email. Dan gw kemudian menyebarkannya di milis.
Gw sampe ke Galeri Nasional sekitar pukul 10.30 bersama Ndaru. Materi workshop Aji Prasetyo sudah berlangsung setengah jalan. Di saat si pembicara nggondess itu sedang tidak sibuk mengawasi peserta workshop, gw langsung menyelinap menghampiri-nya.
"Bisa minta waktu-nya sebentar, Pak Aji?"
"Oh, bisa.. bisa.. Darimana?"
"Saya dari wartawan Trubus"
Aji Prasetyo terlihat bengong sebentar. Tapi dengan tetap ramah, doi menyilakan gw duduk. "Namanya siapa, Mas?"
"Ndableg, Mas.."
Huahahaha.. Lalu meledaklah tawa di antara kami, diselingi dengan pisohan sekedarnya.
Setelah itu, Aji, gw dan Ndaru ngobrol sebentar, karena jadwal selebriti satu ini ternyata padat sekali sampe pukul 4 sore. Tapi dari ngobrol yang sebentar itu, cukup banyak yang kita dapat.
Sewaktu di Jakarta, Aji cerita kalo sempet main ke rumahnya kartunis senior Indonesia, Dwi Koendoro (Komik Panji Koming). Di rumahnya, Dwi Koendoro cerita bagaimana kartun-kartunnya sering disensor atau diubah isinya oleh Dewan Redaksi media bersangkutan. Bahkan, hal yang dirubah oleh Dewan Redaksi dari komiknya kadang cukup banyak. "Itu RPM Konten belum diberlakukan padahal..," Tukas Aji.
Gw coba menanyakan komiknya yang rencananya rutin dimuat di Harian Jawa Pos. Sewaktu Pihak Jawa Pos meminta ijin Aji untuk memuat komik-komiknya di Jawa Pos, Aji mensyaratkan agar komik tentang Cibro yang dimuat duluan. Setelah itu, terserah Jawa Pos mau memuat yang mana lagi.
Setelah komik tentang Cibro dimuat, tidak ada kabar selanjutnya dari Jawa Pos. Ketika si Aji mencoba menanyakannya, redaksi harian itu menjawab, "Komik mas Aji tema-nya berat-berat. Pembaca butuh komik yang menghibur, lucu dan berbau humor."
Aji Prasetyo melihatnya sebagai bentuk ketakutan redaksi sebuah media akan tema-tema komik yang konsisten diangkatnya. "Bayangkan, kalo RPM Konten diberlakukan, redaksi sebuah media tidak bisa lagi mencantumkan kalimat: REDAKSI TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS ISI ARTIKEL YANG DITERBITKAN. Redaksi bakal bertanggung jawab penuh atas semuanya, juga pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Dan itu artinya pisau sensor akan semakin dipertajam. Kalo tidak kepingin diciduk oleh Polisi Konten Kominfo."
Pada saat break makan siang, Ibnumuslim nongol lengkap dengan pasukannya (Bu Ibnu, dan dua orang Ibnu Junior). Kopdar Politikana secara dadakan terjadi. Tidak lama Kopdar dadakan terjadi, muncul komikus asal Perancis, Clemens Baloup yang sehari sebelumnya memberikan workshop di tempat yang sama. Setelah mengobrol dengan bahasa Inggris yang pada belepotan, kamipun berpotret bersama. Tidak lupa, si bule Perancis itu titip salam pada pembaca Politikana via tanda tangannya berupa kartun.
Setelah break makan siang, acara berlanjut dengan ngobrol santai dengan para komikus yang terlibat dalam edisi perdana Kumpulan Cergam 'Kampungan'. Yang duduk di depan peserta adalah Aji Prasetyo, Hans Jaladara, dan Beng Rahadian. Terlihat juga komikus kawakan, Djair Warni (komikus serial Jaka Sembung).
Yang mengharukan adalah apa yang disampaikan oleh Hans Jaladara, Komikus kawakan pencipta tokoh Panji Tengkorak, ketika ditanyakan kenapa masih mau terlibat dalam Kumpulan Cergam ini? Beliau menjawab, "Semangat saya masih seperti dulu. Dan kehadiran saya di sini untuk menyemangati generasi muda agar selalu bersemangat untuk berkarya."
Keplok-keplok! Bukan main memang mbah Hans Jaladara ini. Usianya padahal sudah 60-an, tetapi semangatnya masih tetap tinggi untuk berkarya. Dan kalo melihat komik terbarunya, coretan khas beliau masih tetap terjaga, bahkan semakin berkembang.
Acara ngobrol santai dengan komikus itu merupakan sesi terakkhir dari keseluruhan acara. Gw, Ndaru sama Ibnumuslim segera pamit dengan selebritis nggondess itu. Tapi sebelumnya kami memborong tiga buku Kumpulan Cergam 'Kampungan' edisi perdana plus Postcard tema komik, untuk dihadiahkan buat pembaca Politikana. Gw meminta Aji Prasetyo menanda tangani Postcardnya sebagai bentuk kenang-kenangan.
Tiga buah Buku Cergam plus Postcard, siapa yang beruntung bakalan dapat?
Hehehe.. Kita berempat: Aji Prast, Ibnumuslim, Ndaru dan gw sepakat menyerahkannya pada Pembaca Publikana yang komentarnya terbaik di artikel ini (tentunya disertai dengan rating). Itung-itung hadiah palentain dari kami.
Batas waktu komentar sampai dengan tanggal 20 Februari 2010 (hari Sabtu).
So cekidot!
Hormat kami,
Aji Prasetyo
Ibnumuslim
Ndaru
Ndableg
===
*bagi pemenang yang berada di luar kota, hadiah akan dikirimkan via Paket, dengan sebelumnya yang bersangkutan mengkonfirmasi alamat Pos-nya.
Tag: ndableg, publikana, komik, kampungan
Pantau
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Ibnu Muslim: Perlu
-
pall: Bagus
-
le renard: Perlu
-
mawi wijna: Bagus
Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
*buku cergam yang menarik, gratisssssss mau?
Silahkan login untuk memberikan pendapat