Tentang Ujian Nasional 9

Senin, 22 Feb '10 16:21

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Saya adalah orang yang termasuk mendukung diadakanya ujian nasional untuk tingkat SLTA dan mendukung nilai Ujian Nasional sebagai salah satu penentu kelulusan tingkat SLTA. Mengapa demikian ?

Sebagai seorang guru negeri PNS saya telah mengajar berbagai Sekolah Menengah Ekonomi dan beberapa SMA Negeri maupun swasta selama tiga puluh tahun, yaitu mulai tahun ajaran 1976 sampai dengan tahun ajaran 2006.

Selama tiga puluh tahun mengajar itu saya telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum, tetapi pada intinya kelulusan siswa klas tiga ada beberapa perubahan :

  1. Ditentukan secara penuh oleh sekolah negeri tempat belajar ( belum ada ujian negara ), dengan demikian nilai mata pelajaran ditentukan sepenuhnya oleh guru yang bersangkutan dan hasil rapat Dewan guru.
  2. Ditentukan secara penuh oleh sekolah negeri tempat belajar dengan meng-akomodasi nilai ujian negara, tetapi nilai ujian negara tidak menentukan kelulusan secara mutlak ( Untuk SMA sampai dengan tahun ajaran 2002-2003 ).
  3. Nilai Ujian nasional sampai dengan batas tertentu merupakan nilai yang ikut menentukan kelulusan siswa klas tiga SMA.

Saya cenderung mendukung point 3 untuk peningkatan kwalitas siswa yang lulus dengan pengalaman sebagai berikut, yaitu apabila kelulusan ditentukan sepenuhnya oleh sekolah tempat belajar.

  1. Sudah bukan rahasia lagi  bahwa klas satu baru adalah lahan yang subur untuk membiaya biaya operasional sekolah dengan menarik uang ber macam macam ( termasuk sekolah negeri ), dengan demikian ada kecenderungan besar agar supaya anak kelas satu bisa naik kelas semuanya, sehingga pada tahun ajaran berikutnya bisa memperoleh anak kelas satu baru dengan jumlah yang penuh.
  2. Kalau misalnya dalam satu kelas terdapat sekitar minimal tujuh siswa tidak bisa naik karena memang tidak mampu, maka ada kecenderungan untuk menaikan semuanya sampai 100 % tanpa memperhatikan kwalitas siswa.
  3. Kalau misalnya dalam satu kelas terdapat sampai dengan tiga anak tidak naik karena memang tidak mampu, ada kecenderungan untuk tidak menaikkan ketiga anak tersebut ke tingkat yang lebih tinggi karena jumlah yang tidak mampu hanya kecil
  4. Siswa yang telah naik kekelas tiga ada kecenderungan sudah tahu kalau bakal lulus, karena kalau tidak lulus justru menjadi beban bagi sekolah tempat belajar. Disamping itu siswa klas tiga cenderung tidak ada keprihatinan dan keseriusan untuk belajar karena mereka tahu pasti bakal lulus sekalipun nilainya jelek ( yang penting tidak sampai mendapat nilai dua atau lebih kecil ). akibatnya seringkali guru guru klas tiga makan hati, karena pelajarannya sering diremehkan oleh siswa klas tiga, artinya kewibawaan guru merosot. karena ada siswa klas tiga yang tidak ikut pelajaran sampai tiga bulan toh lulus juga.
  5. Seringkali beberapa guru klas tiga cenderung tidak serius mengajar atau cuek saja karena sudah tahu toh siswanya akan lulus

Silahkan kunjungi : Http ://Pakbodong.blogspot.com/search/label/sidang kenaikan kelas

 

Setelah nilai ujian negara dalam batas tertentu menentukan kelulusan siswa klas tiga, ternyata berdampak positip, yaitu  mulai tahun ajaran 2003-2004

  • Siswa klas tiga semakin prihatin dan serius dalam belajar
  • Kewibawaan guru klas tiga meningkat
  • Guru guru klas tiga menjadi amat serius dan prihatin agar supaya semua siswa klas tiga bisa lulus semua.

Mengenai demo demo siswa klas tiga yang tidak lulus, dalam mempertimbangkan perubahan peraturan juga harus dilihat, sampai sekarang siswa yang tidak lulus dari tahun ke tahun itu berapa prosen ?


Tag: Ujian Negara, Ujian Sekolah

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mawi wijna 0 0
lha lantas bagaimana dengan pendidikan di kelas 1 dan 2? Dengan sistem ujian nasional sekarang ini, sepertinya kualitas siswa hanya ditentukan saat kelas 3 saja.
prajnamu 0 0
Wah, kalau tujuan sekolah cuma mau:

* Siswa klas tiga semakin prihatin dan serius dalam belajar
* Kewibawaan guru klas tiga meningkat
* Guru guru klas tiga menjadi amat serius dan prihatin agar supaya semua siswa klas tiga bisa lulus semua.

Lalu mau kemana arah strategi pendidikan nasional itu pak? Di Politikana, saya pernah tulis alasan saya menolak UN pak, dan ini dari aspek teknis.

http://politikana…ian-nasional

Nah, kalau ini laporan teman yang baru saja jadi pengawas UN... http://politikana…awas-un.html
Pakbodong 1 suka | 0
Hallo Mas mawi wijna dan mas prajnamu apa yang saya sampaikan adalah pengalaman pribadi sebagai guru. Dalam praktek masalah kwalitas adalah nomo yang kesekian, dalam kenyataan nama baik sekolah ditentukan dengan jumlah kelulusan.
Untuk mas prajnamu jangan terkejut ya... seribu kali ganti kurikulum... sebetulnya hanyalah proyek belaka, artinya tidak ada pantauan dan evaluasi dari pusat tentang keberhasilan atau kegagalan... dan terus terang kalau dianggap gagal pusat terus membuat proyek kurikulum baru, bahkan pernah kurikulum baru belum dilaksanakan sudah diganti dengan kurikulum yang lain
Saya katakan terus terang bahwa masalah standar kompetensi dll... hanya berhenti pada tataran administrasi saja.... karena pantauan dari pengawas sekolah hanyalah dari segi administrasi saja dan bahkan pengawas sekolah sendiri terus terang tidak menguasai kurikulum yang selalu baru.. Dan terus terang sejak dikeluarkanya aturan bahwa nilai ujian nasional menentukan kelulusan siswa, maka sekolah menjadi lebih hidup... bukan semata mata tempat dolan dari para siswa. Dan terus terang guru kelas tiga itu harus dikasihani dan bekerja amat keras.... karena mereka harus juga mengajarkan materi klas dua dan tiga. Terus terang saja... kalau disuruh mengajar di kelas berapa... saya memilih mengajar kelas satu atau klas dua.... yang penting membuat nilai bagus. Nah saya kira mas prajnamu perlu mengetahui kenyataan dalam praktek ini.
Pakbodong 0 0
Untuk lebih jelasnya mohon kunjungi : http://pakbodong.…ang/kenaikan kelas
Pakbodong 0 0
Maaf yang betul :
http://pakbodong.…label/sidang kenaikan kelas
prajnamu 0 0
Pakbodong: "Dan terus terang sejak dikeluarkanya aturan bahwa nilai ujian nasional menentukan kelulusan siswa, maka sekolah menjadi lebih hidup... bukan semata mata tempat dolan dari para siswa."

Ini paradoks lain dari Anda. Kenapa orang dewasa menganggap sekolah harus serius, seseriusnya sampai menghilangkan fitrah perkembangan psikologis anak-remaja?
Pakbodong 0 0
prajnamu : Hallo prajnamu... maaf terlambat merespon, karena internet tersambar petir dan tegangan listrik tidak stabil. Terus terang saja saya jadi bingung bahwa sekolah tidak harus serius. Pengalaman saya sejak Sekolah Rakyat, sekarang SD sejak tahun 1950, walaupun ruang kelas tidak cukup untuk enam kelas karena waktu itu masih menempati rumah Pak Dukuh, dan kalau pas pelajaran menyanyi harus duduk dihalaman... tetapi sejak klas satu guru guru saya menekankan walaupun belajar menyanyi, menulis, berhitung , menggambar dan membaca ... sampai kapanpun harus dilaksanakan secara serius dan tekun dalam landasan hormat kepada guru.
Demikian pula sejak SMP sampai dengan Perguruan tinggi, walaupun guru guru dan dosen dosen hanya naik sepeda, tapi beliau beliau ini mengajar secara tekun dan serius.... dan selalu mengajarkan bahwa dalam belajar menuntut ilmu harus selalu tekun dan serius.
Terus terang saja apa yang saya alami... bahwa dengan kelulusan sepenuhnya ditentukan oleh nilai dari guru guru, maka kewibawaan guru guru terutama guru klas tiga jadi menurun drastis. Banyak orang tua siswa yang bergerilya datang kerumah guru klas tiga minta tolong supaya putranya diberi nilai yang baik. Dan ini sangat mempengaruhi mental guru guru yang terjepit dengan ekonomi yang memprihatinkan. Guru guru seringkalai tidak berkomunikas tentang keadaan murid muridnya, yang penting memberi nilai sekadar untuk lulus atau naik. Hal ini berubah drastis sejak diberlakukannya ujian nasional sebagai sayarat kelulusan. Komunikasi guru guru terutama yang klas tiga menjadi bagus, siswa menjadi tambah hormat kepada guru, siswa siswa klas tiga terutama yang nakal nakal bahkan kurang ajar menjadi lebih tekun dan serius dalam belajar. Roh pendidikan di sekolah menjadi hidup.
Mas prajnamu... terus terang sayua tidak ahli dalam psikologi perkembangan... tapi yang saya baca bahwa psikologi pendidikan yang diterapkan sekarang ini mengadopsi dari teori barat yang kurang cocok dengan psikologi anak Indonesia
Nah apa yang saya tulis ini adalah apa yang saya alami.
Salam Publikana.
prajnamu 0 0
Pakbodong: "Pengalaman saya sejak Sekolah Rakyat, sekarang SD sejak tahun 1950"

Saya kira itulah masalah Anda. Melihat situasi kekinian dengan kacamata jaman lalu. Dunia berubah pak. Tantangannya juga berubah. Jaman sekarang sudah lahir konsep edutainment, karena pendidikan, bukan sekedar mencari ilmu, tetapi pendidikan adalah pembebasan.

Bagaimana mungkin membebaskan, kalau paradigma pendidikan malah menindas?
Pakbodong 0 0
Hallo mas prajnamu.... terimakasih telah mampir lagi. Begini ya mas.... apapun teori pendidikan yang dipakai.... untuk terlaksananya harus diberi " roh " yaitu KESERIUSAN ATAU KETEKUNAN . Tetapi dalam menyampaikan -nya memang harus ada improvisasi yang sesuai dengan tiap jenjang pendidikan. Disinilah sebenarnya peran guru atau dosen tiap jenjang pendidikan. Salam publikana ya mas.

Silahkan login untuk memberikan pendapat