Mengapa Dulmatin Dimati’in ? 1

Minggu, 14 Mar '10 09:12

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Dumatin, alias Djoko Pitono alias Djoko Pitoyo dan alias lainnya yang sudah tewas ditangan polisi dapat dikatakan sebagai teroris kelas berat, jika dilihat dari wilayah operasinya yang cukup luas, meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina dan negara ASEAN lainnya.

Tewasnya Dulmatin sebagai salah satu tokoh kunci jaringan teroris menimbulkan tanda tanya karena sebelumnya teroris lain yang juga merupakan tokoh kunci juga tewas di tangan polisi. Sebut saja misalnya, Dokter Azhari dan Noordin M Top. Dalam proses kematian yang berbeda sebelumnya Amrozy, Mukhlas, dan Imam Samodra pun mati di depan regu tembak di kawasan LP Nusakambangan Cilacap, Jawa Tengah (Jateng).

Tewasnya para pentolan teroris yang merupakan tokoh kunci tsb menimbulkan tanda tanya, mengapa mereka (selain Amrozi Cs) tidak ditangkap hidup-hidup, tetapi malah ditembak mati ? Beberapa pihak mengatakan bahwa kalau polisi bisa menangkap para teroris hidup-hidup, akan banyak keterangan yang bisa dikorek dari mereka seperti, siapa saja jaringan mereka, di mana saja markas mereka, dan apa rencana serta sasaran teror mereka berikutnya.

Tentu data seperti itu akan lebih banyak terungkap jika Dulmatin ditangkap hidup-hidup mengingat seperti uraian di atas, wilayah operasi Dulmatin cukup luas.

Ada rumor yang menyatakan kemungkinan penembakan Dulmatin merupakan balas dendam atas tewasnya tiga anggota polisi ketika mereka mengegerebek sarang teroris di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Terkait dengan hal tsb pengamat kepolisian Universitas Indonesia (UI) Bambang Widodo Umar, mempertanyakan, mengapa polisi tidak berusaha menangkap hidup-hidup Dulmatin. Kalau polisi tahu bahwa buruan yang akan mereka sergap adalah gembong teroris. Mestinya bukan ditembak mati, tetapi ditangkap hidup-hidup. Dengan demikian, masyarakat dan kita semua akan tahu, motif apa sebenarnya di balik aksi terror mereka selama ini. (Jtkpress.com:11/03/2010).

Mengenai tewasnya Dulmatin dan gembong teroris lainnya, tentu polisi punya alasan tersendiri. Sejak Dr.Azhari dan Noordin M.Top masih menjalankan operasinya, dikabarkan bahwa mereka selalu membawa bom bunuh diri yang siap diledakkan jika mereka disergap. Tentunya polisi tidak mau mati bareng dengan teroris.

Selain itu Nasir Abas (salah satu mantan pentolan JI yang sudah insyaf) dalam wawabcara di TV One, mengatakan bahwa para teroris itu punya prinsip lebih baik mati daripada ditangkap. Tampaknya alasan-alasan tsb cukup bisa digunakan oleh polisi untuk membantah bahwa tewasnya Dulmatin bukan bermotif balas dendam. Akan tetapi apakah hal-hal tsb cukup bisa dijadikan alasan oleh polisi untuk menembak mati para teroris ?

Seperti uraian di atas biar bagaimanapun juga tentu penangkapan teroris hidup-hidup akan membawa manfaat untuk mengungkap saja jaringan mereka, di mana saja markas mereka, dan apa rencana serta sasaran teror mereka berikutnya.

Perlu juga diketahui bahwa sampai saat ini motif kembalinya Dulmatin ke Indonesia masih misterius. Dalam wawacara di TV One, salah seorang nara sumber menyatakan bahwa kedatangan Dulmatin dkk ke Indonesia mungkin saja salah satu motifnya adalah rencana balas dendam para teroris terhadap polisi yang sudah banyak menewaskan kawan-kawan mereka.

Seandainya apa yang dikatakan oleh nara sumber tsb benar, tentu akibatnya akan sangat mengerikan. Mungkin nanti kita akan melihat adanya polisi yang sedang bertugas di jalan-jalan tewas secara misterius. Di lain waktu kita pun akan mendengar lagi berita tentang tewasnya teroris di tangan polisi. Balas dendam yang berkelajutanpun akan terus terjadi. Kita doakan saja semoga hal seperti itu tidak akan pernah terjadi.

Mungkin banyak orang yang setuju jika para teroris itu ditembak mati saja. Akan tetapi bisakah hal tsb mengatasi masalah terorisme di Indonesia ? Rasanya jika dilihat dari mayoritas masyarakat kita yang beragama Islam, para ulama pun cukup bisa diandalkan untuk berusaha menyadarkan mereka. Dengan kata lain Negara kita masih memiliki cara lain yang lebih ampuh dalam mengatasi terorisme dibandingkan dengan Negara lain seperti Amerika misalnya.

Salam sukses terus


Tag: polisi, Terorisme, ulama, Balas Dendam, Dulmatin tewas

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

prihatin 0 0
Memang sebaiknya teroris itu ditangkap hidup2, tapi polisi harus berani menanggung resiko

Silahkan login untuk memberikan pendapat