Refleksi Publikana: Pembangunan manusia berpendidikan vs. Pembangunan Menara Jakarta 1
Minggu, 2 Mei '10 08:05
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
A PHP Error was encountered
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: libraries/Gatekeeper.php
Line Number: 260
Suatu pagi sebuah radio announcer bersuara merdu membacakan berita tentang proyek menara kemayoran yang merupakan hasil konsensi beberapa perusahaan yang sudah siap secara finansial. Pikiran pun menerawang jauh ke angka fantastis mega proyek, laba yang bakalan diraih oleh beberapa perusahaan tersebut lalu sampai pada siapakah target market yang menjadi sasaran para bos perusahaan tersebut. Karena pikiran tersebut terlalu estimastis yang tidak begitu berdampak pada kehidupan saya, pikiran saya pun menerawang lagi kepada satu objek. Sepasang mata belum genap 9 tahun menawarkan beberapa lembar koran sisa hari itu.
Hari itu memang tidak biasa. Angka milyar dolar begitu mudah untuk membangun sebuah marka kota namun tidak dapat membangun semangat anak ini untuk tetap berseragam dan duduk di kelas demi sebuah tujuan yang jangka panjang. Tulisan ini bukan untuk memojokkan kepentingan bisnis atau untuk mengeksploitasi kehidupan anak ini. Bisnis adalah suatu kesahihan manusia untuk mempertahankan kedigdayaan dalam hidup. Pendidikan meski tidak luput dari kepentingan bisnis adalah sebuah wahana perbaikan kehidupan seorang manusia.
Lagi-lagi lampu merah perempatan masih memberikan saya langkah taktis yaitu membeli sisa dagangan nya dan berharap dia bisa makan siang beberapa jam setelahnya. Apakah itu yang keputusan terbaik yang bisa saya ambil saat itu? Saya bilang pada diri sendiri bukan keputusan terbaik untuk kelangsungan hidupnya tapi setidaknya saya membantu meringankan beban nya untuk hari itu. Saya panggil, "Dek, ada koran apa hari ini?" Sinar redup mendadak menjadi seberkas sinar menyambung hidup nya hari itu. Ketika saya mengambil dua koran sisa produk dagangannya, saya secara tidak sadar menanyakan apakah tidak ingin sekolah dan belajar seperti anak-anak yang lain?
Benar saja, jawaban seorang anak yang cerdas dan membuyarkan saya dari ketidakadilan hidup. Dia dengan sopan, "Saya harus membantu keluarga, bapak saya baru meninggal, Ibu tidak sanggup menyekolahkan saya ditambah saya masih punya adik kecil yang tentu membutuhkan uang. Tapi Om saya janji saya pasti akan sekolah lagi kalau keadaan sudah lebih baik" Dengan kata-kata yang luar biasa keluar dari seorang anak yang belum genap 10 tahun ini begitu realistis dan begitu matang. Hidup yang mengajarkan itu. "Om, lampunya sudah hijau pak...teriak dia di pinggiran jalan sana"
Uang itu memang bukan uang untuk membeli buku, ataupun menjadi modal membangun kecerdasan. Namun ketika menilik mega proyek konsensi di radio tadi, sepertinya saya baru diberikan sebuah fragmen kehidupan yang bisa merubah hidup semua orang yang mendapatkannya.
Selamat pagi Jakarta.
Tag: pendidikan, kemiskinan
Pantau
Terkait:
-
Sekolah Itu Mahal, Jendral!
Jumat, 9 Jul '10 21:38 -
[copas] Monitoring dan Pos Pengaduan PSB/PPDB 2010-2011
Selasa, 29 Jun '10 07:29 -
Pengaruh-Pengaruh Buruk pada Televisi
Kamis, 18 Feb '10 21:20
Melati, bukan nama sebenarnya

Komentar:
Ironis...
Silahkan login untuk memberikan pendapat