Sekolah Itu Mahal, Jendral! 3

Jumat, 9 Jul '10 21:38

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Dahulu, sewaktu saya kelas satu SD kebutuhan primer itu cuma tiga, sandang, papan, dan pangan. Beranjak SMP berubah lima, ditambah kesehatan dan pendidikan. Wajar sih menurut saya, sandang, papan, dan pangan itu bisa diperoleh dengan kesehatan dan pendidikan. Keduanya vital. Namun keduanya berbeda.

Kesehatan merupakan anugerah Tuhan, sedang pendidikan kita sendiri yang mengupayakan. Sayang tidak semua dari kita tidak mau mengupayakan. Ralat, tidak mampu.

Sekolah sebagai sarana pendidikan di Indonesia buat saya lebih mirip peternakan yang panen setiap tahun sekali di bulan Juni-Juli. Di bulan-bulan itulah musimnya anak-anak mendaftar sekolah dan naik kelas, di bulan-bulan itu juga pos pemasukan banyak diakali, dari uang daftar ulang, buku pelajaran, seragam, bahkan sampai ada uang asuransi keselamatan. Orang tua jelas dibuat kelimpungan, apalagi yang secara ekonomi pas-pasan. Kadang demi anak mereka repot cari pinjaman. Miris.

Saya ngga ingat berapa dulu yang ortu saya keluarkan untuk masuk SD, tapi saya ingat biaya bulanannya Rp. 15.000,- dan turun dengan sendirinya saat saya pindah ke SD di Kota Kebumen, cuma Rp. 6.000,-. Kedua SD saya adalah SD negeri. Kemudian saya masuk SMP Negeri 19 Jakarta pada tahun yang saat itu adalah sekolah standar internasional pada tahun 2004 dengan uang bangunan Rp. 3.500.000,- bisa dicicil setahun. Bulanan sebesar Rp. 150.000,- dan turun menjadi (kalau tidak salah) Rp. 75.000,- setelah ada dana BOS, kemudian naik kembali menjadi Rp. 125.000,-. Masuk SMA di SMA Negeri 47 Jakarta pada tahun 2007 dengan uang bangunan dan bulanan yang fleksibel sesuai kemampuan dan kesanggupan.

Tahun ini adik saya masuk SMP Negeri 1 Tangerang dan harus membayar Rp 2.000.000,- cash saat daftar ulang. Ya, DAFTAR ULANG.

Bukan cuma biaya ding yang nggak ketulungan, masuknya juga sulit. Bayangkan, sekarang anak mau masuk SD setidaknya harus berumur tujuh tahun dan sudah lancar baca tulis. Ya, LANCAR BACA TULIS. Seharusnya kelas satu dihapus dari Sekolah Dasar. Itu baru SD, belum SMP dan SMA yang sekarang sudah berbasiskan hasil ujian. Ooo… tapi hasil ujian belum tentu murni juga, orang sudah mafhum kalau dalam pelaksanaannya banyak kecurangan.

Saya sendiri bingung, sekolah sebegitu kreatifnya untuk apa ya? Apa ada jaminan cerdas luar biasa jika kita masuk sana? Atau malah cuma buat sarana pongah ke tetangga?


Tag: sekolah, pendidikan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mawi wijna 0 0
Ketika materialisme sudah merambah aspek pendidikan, ya beginilah akibatnya Tong.

Itu terjadi ketika pendidikan sudah dianggap sebagai pijakan awal untuk meniti karier untuk mencapai jenjang penghasilan tertinggi.
Pakbodong 0 0
" SEKOLAH ITU MAHAL JENDRAL... "
Waduh judulnya kok misterius.... kok tidak " Sekolah itu mahal bung .... "
Yah sekolah memang mahal.... tapi itu relatip... bergantung kepada si kaya atau si miskin... persoalan menjadi serius karena sebagian besar orang Indonesia termasuk kategori miskin. Kalau sekolah dikatakan seperti peternakan yang panen setiap tahun memang tidak salah.... teus terang guru guru sendiri itu termasuk golongan miskin.... mereka juga butuh biaya untuk menyekolahkan anak anaknya.... jadi memang terjadi lingkaran setan.... kok saya tahu... ? Yah karena aku adalah guru PNS sejak jaman orde baru selama tiga puluh tahun....
tongki 0 0
Pakbodong: saya jadi mengerti apa makna pahlawan tanpa tanda jasa : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat