Sekali lagi tentang Redenominasi 2

Senin, 9 Agu '10 07:20

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: libraries/Gatekeeper.php

Line Number: 260

Secara populer redenominasi itu dapat diartikan sebagai kiat (ekonomi) dalam mengubah pecahan mata uang. Misalnya dari Rp 1000,- menjadi Rp 1.- tanpa mengubah daya beli uang tersebut.
Jika semula Rp 1000,- adalah untuk harga sebuah barang.... maka sesudah redenominasi dilakukan maka harganya adalah Rp 1,-
Yang ditakutkan oleh masyarakat adalah misalnya harga sebuah barang mula mula adalah Rp 1.250.- ( seribu dua ratus lima puluh rupiah ) .... maka setelah redenominasi harga barang itu menjadi Rp 1,250.- karena tak ada pecahan ( denominasi ) dibawah Rp 1.- maka yang ditakutkan masyarakat pedagang akan membuat harga baru untuk barang teersebut yaitu Rp 2.- dengan demikian akan terjadi inflasi yang cukup tinggi.
Saya lahir tahun 1944 dan masih ingat pecahan ( denominasi ) uang rupiah tersebut  ketika saya kelas satu Sekolah Rakyat ( sekarang SD ) yang mungkin bisa dipakai untuk mengatasi ke khawatiran tersebut sebagai berikut : ( Tahun 1950)
  • Denominasi ( pecahan ) terbesar waktu itu adalah Rp 5.- terbuat dari kertas dan kalau tidak salah bergambar R.A. Kartini.
  • Pecahan dibawahnya adalah Rp 1.- terbuat dari kertas
  • Pecahan dibawahnya adalah Rp 0.5. jadi Rp 1. = 2 kali Rp 0,5 
  • Pecahan dibawahnya lagi adalah Talen ( e disini dibaca seperti membaca : kakek )... Rp 1. = 4 Tali
  • Pecahan dibawahnya lagi adalah Kethip ( huruf i disini dibaca seperti : tempe )             Pecahan Talen dan Kethip dibuat dari semacam logam putih seperti pecahan Rp 100.- sekarang ini.
  • Pecahan dibawahnya lagi Benggol ( Huruf e dibaca seperti : Tempe )...Satu kethip = empat benggol. Pecahan Benggol dibuat dari tembaga. Nilai satu kethip = empat Benggol
  • Pecahan dibawahnya lagi adalah Sen  dibuat dari tembaga  ( Huruf e disini dibaca seperti Kakek ) dengan nilai satu Kethip = sepuluh sen... sedang satu Benggol = Dua setengah Sen
  • Pecahan dibawahnya lagi yang paling kecil juga dibuat dari tembaga adalah Ndhil ( i disini dibaca seperti : Tempe )... dengan nilai Satu Sen = dua Ndhil
Dengan demikian Rp1. =  4 Talen =  10 Kethip = 40 Benggol = 100 Sen = 500 Ndhil.
Kemudian perkembangan berikutnya muncul pecahan baru yaitu :
Koin  50 sen tahun 1958, koin 25 sen tahun 1952, 10 sen tahun 1954, koin 5 sen tahun 1952
Nah dengan demikian banyaknya pecahan ( denominasi ) dibawah Rupiah... mudah mudahan kekhawatiran masyarakat bisa dinetralisir.
Koin 50 sen, 25 sen, 10 sen, 5 Sen
Sumber bacaan dan gambar : Google
Naskah ini juga dikirim ke Kompasiana.com dan Politikana.com


Tag: Denominasi, Redenominasi, Sanering

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Pantau

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

prajnamu 0 0
Pemerintah harus menerbitkan uang sen lagi, kalau tidak ya inflasi besar itu akan terjadi. Begitu ya kira-kira pak? ; ))
Pakbodong 0 0
Tulisan saya hanyalah menanggapi ke-khawatir-an masyarakat bahwa harga harga akan naik ( dinaik-kan ) oleh pedagang dengan alasan tidak ada pecahan / denominasi dibawah satu rupiah. Apakah akan terjadi Inflasi besar... ? Inflasi besar mungkin akan terjadi apabila kenaikan ( dinaik-kan ) harga barang itu dilakukan secara masif diseluruh pelosok tanah air. Secara teori sebenarnya belum /tidak perlu diadakan redenominasi untuk rupiah... karena persyaratan untuk melakukannya adalah tidak sederhana ( baca Kompas Senen, 9 Agustus 2010 oleh Purbaya Yudi Sadewo. Mungkin Bapak perlu membaca tentang Teori Chaos dengan Lorenz's Butterfly-nya. Salam Publikana ya Mas....

Silahkan login untuk memberikan pendapat